Saturday, June 16, 2007

Rewangan

Duh, udara Surabaya panas dan kering sekali hari ini. Mau ngapa2in jadi males banget moodnya. Suami yang tadi pagi berangkat ke Balikpapan baru telpon, cerita kalau malam ini dia akan menginap di pondok di tengah hutan sawit. “Wah, indahnya kalau kamu bisa ikut bersamaku disini malam ini sayang...”, katanya dudul, bikin udara disini jadi terasa tambah panas aja, hi hi hi.

Semalam aku pergi ke acara khitanan anaknya Mas Win, sepupunya suami. Mas Win sekeluarga sudah sekitar 5 tahun lebih menjadi salah satu keluarga pendatang di sebuah daerah pedesaan di Sukodono. Fyi, Sukodono ini walaupun tidak jauh dari Surabaya, tetapi suasananya sangat pedesaan banget. Satu rumah dengan yang lain tidak ada yang dibatasi pagar. Pekarangan rumah pun saling sambung menyambung dengan tetangga. Termasuk tenaman dan pohon-pohonnya. Satu pohon mangga akan dirawat (dan dinikmati hasil panennya) bersama-sama oleh beberapa keluarga yang tinggal berdekatan. Beberapa pekarangan yang menyambung jadi satu ini membentuk semacam ‘lapangan kecil’ di tengah-tengah beberapa rumah, dan ketika ada yang punya hajat seperti ini bisa dipakai sebagai tempat acara. Benar-benar mengingatkan aku pada mas kecilku, ya atmosfernya, ya suasana rumahnya, ya suasana pergaulan dengan tetangganya, semuanya...

Satu hal yang selalu menarik untuk dicermati ketika kita berada di hajatan di daerah pedesaan begini adalah budaya ‘rewangan’ nya. Secara umum, budaya ‘rewangan’ memang sudah lumrah terjadi sejak dahulu kala dalam masyarakat Jawa. Setiap ada salah satu anggota masyarakat yang punya hajatan, maka tanpa dikomando akan terbentuk dengan sendirinya semacam ‘panitia’ yang terdiri dari para tetangga dan sanak saudara. Job deskripsi masing-masing panitia ini pun juga tidak perlu lagi adanya komando. Biasanya sudah jelas, misalnya dala lingkungan tersebut siapa orang yang dikenal piawai memasak (maka otomatis dia yang akan mengerjakan tugas masak memasak). Memasakpun, juga begitu, ada yang ahli bikin jenang (dodol Jawa) maka tanpa perlu SK dia akan bikin jenang, siapa yang dikenal ahli masak soto maka dia akan masak soto. Tentu dengan ijin si empunya hajatan, but the point is, struktur kerja seperti itu sudah terbentuk kuat, tak perlu lagi adanya tetek bengek birokrasi dan yang amazing...no money talks here..!! Sesuatu yang sangat amat langka terutama di daerah perkotaan jaman sekarang. Di kota, setiap kita punya hajatan, justru it’s all about money...urusan perlengkapan, acara, dokumentasi, katering semua bakalan beres asal ada uang.

Balik ke rewangan. Tadi malam, di daerah Sukodono yang katanya sekarang mulai tersentuh aura metropolis Surabaya itu, aku masih menyaksikan sendiri jalannya budaya rewangan ini. Bahkan bersama ibu mertua dan beberapa saudara disitu, aku sempat terlibat perbincangan menarik tentang pernak-pernik rewangan ini. Ternyata walaupun sesama Jawa, satu daerah mempunyai mekanisme yang berbeda dengan daerah yang lain. Tidak usahlah kita bahas terlalu luas, di daerah Surabaya dan sekitarnya saja ternyata mekanisme ‘rewangan’ sudah sangat bervariasi. Dan semuanya berbeda dibandingkan model rewangan yang dulu sering aku saksikan di kampung halaman Tulungagung tercinta.

Seorang saudara bercerita bahwa di daerah suaminya sebut saja daerah A (aku lupa namanya huehehe, sebuah kampung lama penduduk asli Surabaya Timur), kira-kira sebulan sebelum hajat dilaksanakan, si empunya hajat biasanya lapor ke tetangga2 dan saudara2 sekaligus mengundang. Undangan ini jangan dibayangkan seperti di kota jaman sekarang yang berupa selembar kertas dengan desain cetak cantik dan dikirim via pos. Bukan. Undangan ini berupa sebuah kunjungan pribadi (silaturahim) yang bisa-bisa menghabiskan dari sore sampai malam beranjak larut. Untuk satu keluarga! Jadi kalau misalnya si empunya hajat memerlukan mengundang rewangan 30 keluarga, maka dia harus melakukan setidaknya 15 kali kunjungan (taruhlah 2 kunjungan dalam 1 malam). Coba. Kita yang sudah terjebak dalam ritme kehidupan modern jaman sekarang, pasti tidak akan sulit menemukan alasan ini itu untuk memilih telpon atau sms saja kan? Undangan 30 orang keluarga untuk rewangan bisa-bisa kelar cuma dalam waktu 3 malam, singkat, sama singkatnya dengan hakikat silaturahimnya itu sendiri.
Yang khas di daerah A ini adalah bahwa undangan itu biasanya disertai semacam order.

“Kita mengundang keluarga sampeyan untuk rewang, sekaligus memohon bantuan beras dan kentang. Untuk gula, kopi serta kebutuhan wedang kebetulan sebelum ini kami sudah ke adik sampeyan dan beliau sudah menyanggupi. Keluarga sepupu kita juga sudah menyanggupi kebutuhan terop dan sewa kursi”...dan seterusnya.

Jadi bisa-bisa, si empunya hajat ini pada akhirnya tidak perlu mengeluarkan biaya sama sekali karena semua kebutuhan sudah tercover oleh banyak keluarga yang diundangnya untuk rewangan. Terdengar egois dan tidak adil? Tidak juga, karena kalau orang lain yang giliran punya hajat, si empu ini pun akan mendapat order tersendiri juga. Jadi hajatan itu sendiri menjadi semacam arisan antar saudara dan tetangga. Kecuali bila mungkin ada keluarga yang tidak pernah melakukan hajatan tetapi sering mendapat undangan rewangan, lain lagi ceritanya.

Tetapi hey, keluarga-keluarga Jawa terkenal sangat kental budaya hajatannya (ini kalau bicara murni soal adat lho, sama sekali aku tidak bicara dalam konteks agama), jangankah peristiwa2 besar macam pernikahan atau khitanan, peringatan meninggalnya seseorang pun sarat akan acara hajatan.

Eh, tapi ada juga lho yang dudul. Di daerah Sukodono rupanya memang benar sudah mulai tersentuh metropolisnya Surabaya. Ibu mertua bercerita kalau sebelumnya, siang-sore banyak ibu-ibu sekitar rumah Mas Win yang datang membawa ember atau tas berisi segala macam sumbangan rewangan. Dari beras sampai gula, macam-macam. Ibu-ibu yang begitu saja tulus menyerahkan bawaannya kepada yang punya hajat (istri Mas Win) tentu saja mendapatkan ucapan terima kasih yang tulus juga dari tuan rumah. Tetapi, ternyata ada ibu-ibu yang ketika menyerahkan bawaannya, disertai dengan ‘kata sandi’ khusus. Kata sandi itu, cerita ibu mertua, adalah ‘fitrah’ (dalam logat Jawa sih sering terucap ‘pitrah’ :D he he). Ada beberapa ibu yang dia lihat mengucapkan “ini 1 fitrah mbak, sama gula 2 kilo” atau yang lainnya “ini 4 fitrah lo mbak”. Ibu mertua yang penasaran pun akhirnya menanyakan soal itu ke istri Mas Win.

Ternyata kata sandi ‘fitrah’ itu merujuk kepada istilah dalam zakat fitrah yang berarti ‘2,5 kilo’ sehingga ketika seseorang mengatakan 4 fitrah, berarti jumlah beras yang dia bawa adalah 10 kilo. Bukan hanya itu. Ketika ada seorang ibu mengatakan kata ‘fitrah’, itu adalah sandi bahwa tuan rumah harus segera mencatat nama si ibu, lengkap beserta barang bawaan dan jumlahnya. Kalopun tidak mencatat, tuan rumah si empunya hajat harus mengingatnya dan tidak boleh lupa. Katanya, itu pertanda bahwa biasanya dalam waktu dekat, si ibu ini akan melaksanakan suatu hajat juga, dan DIHARAPKAN tuan rumah ini nanti akan juga membawa sumbangan yang kurang lebih sama (kalau perlu lebih, yang jelas TIDAK BOLEH KURANG) dari apa yang pernah si ibu bawa untuknya. Kalau ini tidak terjadi, jangan salahkan si ibu pengirim kalau hubungan bertetangga atau persaudaraan akan menjadi taruhannya. Dudul kan? Walaupun aku yakin soal begini tidak ada hubungannya dengan adat (melainkan dengan sifat dan kepribadian individu nya sendiri), tapi tetap aja dudul kan..hi hi hi.

Indonesia dari sisi ini memang amazing ya...lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya...

;-)

No comments: