Friday, July 27, 2007

[This Is Good] Kisah Luqman Al-Hakim

Dalam sebuah riwayat diceritakan, pada suatu hari Luqman Al-Hakim masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor khimar, sedangkan anaknya mengikuti dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, sebagian orang di pasar pun berkata, “Lihatlah orangtua itu yang tidak bertimbang rasa menaiki khimar, sedangkan anaknya dibiarkannya berjalan kaki.”

Setelah mendengar desas-desus dari khalayak ramai, maka Luqman pun turun dari khimarnya, kemudian dinaikkannya anaknya diatas khimar itu. Melihat yang demikian, maka sebagian orang pasar itu berkata pula, “Lihatlah itu, orangtuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak-enak menunggang khimar itu, sungguh kurang beradab anak itu!”

Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik keatas khimar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang-orang di pasar pun berkata lagi, “Lihat dua orang itu, menunggangi seekor khimar, sungguh kasihan khimar itu.”

Oleh karena tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari khimar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, “Dua orang berjalan kaki, sedangkan khimarnya tidak ditunggangi, betapa mubazirnya.”

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Luqman Al-Hakim menasihati anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka. Katanya, “Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah SWT saja. Barangsiapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangan dalam segala hal.”

(Dari Buletin Al-Ummah)

memang kalo mau nurutin apa kata orang, capee deehhhhh :-D

Wednesday, July 18, 2007

Bea's First Day at School

Selasa, 17 Juli 2007.
Giliran hari pertama Bea sekolah, at PlayGroup Daarul Ilmi...which means, that day is her first day at school ever!! :D

Jangan ditanya lagi acara mewek2annya. Sudah sejak Sabtu (atau malah sebelumnya) sebenarnya hatiku sudah diliputi haru biru. Ditengah-tengah mempersiapkan semua keperluan anak-anak masuk sekolah, seakan-akan di benak dan otakku bolak balik diputar kembali rekaman film, dari hari pertama aku mengetahui kehamilan Abe (setelah hampir 5 tahun kehamilan itu kami tunggu2), hari2 kelahiran anak-anak, hari pertama mereka melangkahkan kaki berjalan, wajah serius Abe ketika meninggalkan aku yang masuk RS untuk melahirkan Bea, suaranya yang semangat memamerkan kelahiran adiknya ketika aku belum sepenuhnya sadar dari bius operasi cesar, semua seakan melintas lagi dikepalaku.

Ketika aku menyampul satu persatu buku2 Abe, terlintas semua celotehannya di masa lalu. Ketika aku jahitkan badge di seragamnya, kuingat juga saat-saat berat ketika aku hampir-hampir kehilangan kesabaran ketika menghadapi kerewelannya (oh, Thank God it doesn’t happen much...semua karena karuniaMu juga Ya Alloh..), ketika kulekatkan sticker2 label nama yang kubuatkan sendiri di kotak crayon Abe, terlintas betapa seriusnya ketika Abe kuajak diskusi tentang dimana sebaiknya Bea masuk PlayGroup...

Waktu melayang cepat dalam hidup ya...
Waktu kukecilkan lubang kerudung Bea yang kebesaran, tanpa terasa airmataku menetes, betapa cepat masa berlalu, kamu kok ya sudah sekolah juga to nak... ^_^

Memang dudul ya melihat anak-anak mulai berangkat sekolah...hikss...
Saat semuanya siap, aku masih tak bisa tidur dengan nyenyak...Hari pertama Abe di SD yang berjalan lancar tak jua membuatku terlelap karena menantikan besok ketika Bea untuk pertama kalinya bersekolah...

Alhasil, karena baru bisa tidur kira2 jam 2 pagi..sehabis sholat Subuh dalam hati aku berjanji akan sebentar saja memejamkan mata dan siap bangun jam 5 atau 5.30. Bapak juga gitu, karena sebelumnya pulang dini hari dari acara pengajian, malah narik2 ibuk dipelukan untuk tidur lagi...Ah, sebentar aja, janjiku lagi... Sungguh janji yang sia-sia, karena next time I know, Abe udah goyang2 badanku “Ibuk, kita kesiangan, sekarang sudah jam 6 lho!!”

Jrenggg...(ini waktunya musik latar berubah drastis, dari sebelumnya yang mendayu2 penuh gesekan biola yang melodramatis, jadi gebrakan grand piano yang bertempo cepat dan riuh)

Alamakkk..mana Bea juga masih tidur?!!? “Beaaaa bangun sayanng, katanya mau sekolah...ayo bangun sayang.....Abe...!!!! sudah belum mandinya??...Jangan lupa gosok giginya, trus langsung pake baju yaa, pake tenaga power ranger ya, secepat yang Abe bisa, kita udah kesiangan nih...Beaaaaa... uhhhh... bangun naaakkk, aduh beratnya anak ibuukk...ayo buka matanya coba...tuh mas Abe udah mandi, Bea kan hari ini masuk sekolah...”
Dan Bea pun masih memilih merem di bahu Ibuk....alamakkk bangun sayang..!!!

Singkat cerita, dengan bantuan Bapak dan mbak, jam 6.30 udah berhasil masuk mobil hueheheh alhamdulillahh... “Hati-hati nyetirnya nduk, ambil napas dulu....” kata Bapak sambil nyalamin anak2.
Ha ha ha

Di PG Daarul Ilmi, ada 2 kelompok, kelompok As-Salam yang masuk hari Senin-Rabu-Jumat dan kelompok As-Syamik yang masuk Selasa-Kamis-Jumat. Bea masuk As-Syamik, jadi hari pertamanya adalah Selasa. Aku sedikit lega karena itu berarti aku bisa mendampingi Abe di SD pada Seninnya.
Karena sebelumnya harus antar mas Abe nya di SD, Bea akhirnya datang pertama di sekolah. Wah, seluruh taman bermain serasa miliknya...Sempat masuk kelas, gayanya mau coba-coba duduk manis...trus minta main lagi diluar...

Setelah bel masuk, mendadak Bea kok punya hobi baru..?
“Ayo anak-anak As-Syamik berbaris dulu... Lala...Yara...Bea...” ajak Bu Guru dengan ramah
“Emoh!” jawab Bea sambil lari lagi ke ayunan
“Ayo Bea berbaris dulu sayang, nanti main lagi, sekarang waktunya masuk kelas” ajak Ibuk
“Ndak mau!” sambil geleng2.

(30 menit kemudian)
“Kita nyanyi sambil tepuk tangan ya..ayuukkk”
Bela lari ke ujung ruangan, ke meja guru sementara teman2nya duduk melingkar dengan Bu Guru di pojok yang lain.
“Wah ada beberapa teman yang ternyata masih belum kesini...Ayo kita panggil mereka yuuk”
Satu persatu yang masih pada ngambek, nempel ibuknya, gak mau sekolah dipanggil namanya...Bea tetap asik nyanyi sendiri di belakang meja guru.
“Kalau kau suka hati panggil Bea....BEA!!” seru Bu Guru.
“Emoh!” kata Bea sambil merem dan geleng2 kepala.

(15 menit kemudian)
“Ayo berbaris lagi yuuk...PlayGroup Syamiik..!! kita bikin kereta api, jalan-jalan keluar yuukkk”
“Bea, ikut jadi kereta api yuuk, kita main diluar lagi” ajak Ibuk yang sudah mulai mengendur usaha urak2 Bea nya.
“Emoh!!”
“Lho, tadi kan Bea ajak main ke luar kelas kan? Ini teman2 mau pergi keluar kelas, berbaris –naik kereta api..tut tut tut..” Ibuk belum menyerah.
“Emoh!! Bea mau didalam aja!”
Alamak...waktu Bu Guru di kelas, Bea selalu berusaha keluar untuk main di halaman, giliran Bu Guru mau ajak keluar kok Bea malah mau didalam...?

Hobi baru itu berlangsung sampe pulang sekolah lho... Ha ha ha
Jadi inget, dulu minggu pertama di PlayGroup, Abe bikin ketawa semua karena ketika Ibu Gurunya mengajak pergi ke salah satu pojok kelas untuk menyanyi, Abe malah ajak2 temennya ke pojok lain di seberangnya...”Aku punya ide, kita nyanyinya disini saja teman2..!!!!” sampe beberapa teman dengan bingung jalan bolak-balik ‘ikut yang mana yaaa?” :D

Sorenya ketika semua sudah santai berkumpul di rumah, setelah mendengar cerita lengkap tentang Bea, dia komentar gini :
“Siapkan mentalmu aja dari sekarang, kalo-kalo nanti waktu kelas 1 SD, Bea juga harus berada di kelas yang sama dengan Abe”
:D

Abe's First Day at SD

Senin, 16 Juli 2007. Hari Pertama Abe di SD.
Aduh ndak kerasa ya Be...kamu kok ya sudah gede ya nak..hiks..

Hari pertama sekolah selalu hectic. Malamnya, seperti biasa kalo lagi heading a big day, Ibuk gak bisa tidur Be...berkali-kali ngecek perlengkapan sekolahmu. Duh...rasanya baru kemarin Ibuk sampe diare karena ikut tegang waktu kamu hari pertama masuk playgroup (selengkapnya bisa dibaca
disini) lha kok sekarang kamu sudah SD to nak nak...
Biarpun tidak seheboh dan setegang waktu Playgroup dulu, tapi keharuan yang kurasakan masih tetap sama. Malam sebelumnya, sehabis menjahitkan badge di baju seragammu Be, Ibuk termangu... MasyaAlloh.. what a bless we are having all these time. In almost no time, you have grown up, sometimes it feels almost too fast for me, my dear...Above all, I think we’ve done pretty okay so far, and you grow up so nicely.. Alhamdulillah Ya Allah...semoga kamu tumbuh jadi anak sholeh sayang...
(Oke now ibuk, enough acara meweknya hiks...hi hi)

Sabtu sebelumnya, waktu pengumuman pembagian kelas, baru tahu kalo ternyata Abe masuk kelas khusus. Hemm..dibilang khusus sebenarnya aku kok kurang sreg ya, karena berarti kan ini sama aja dengan memberi label ke anak, dan aku sangat menghindari itu. Cuma memang, bersama teman2 walimurid lain, kita sempat geli-geli gimana gitu, begitu kami berkerumun untuk melihat papan pengumuman yang memuat daftar nama-nama murid baru di kelas 1 itu.
Di
SD Al-Hikmah siswa kelas 1 nya ada 6 kelas (I-A sampai I-F). Agak lama sebelumnya aku sudah dapat bocoran (dari iparku yang juga jadi guru mengajar di situ), kalo Abe masuk kelas I-A. Waktu itu Tante Ulfa (iparku itu) sms : “seperti yang kuperkirakan, Abe masuk kelas I-A, dan pastinya kelas yang...(titik titik) :D”



Waktu di sms itu aku belum sepenuhnya paham maksudnya (selain memang sebelumnya aku sempat dipanggil BK TK nya, menyangkut Abe yang hasil test IQ disekolahnya tinggi –superior- tapi kemandirian dan kematangan emosinya masih dinilai ‘belum siap masuk SD’ hi hi)
Ketika melihat sendiri jejeran daftar kelas di papan pengumuman Sabtu itulah aku jelas apa maksudnya. Dibawah daftar masing-masing kelas lain, hanya dicantumkan keterangan jumlah siswa L (Laki-Laki) dan P (Perempuan). Sedangkan kelas I-A, kelasnya Abe, ada tambahan catatan.

Just in case you can’t read it clearly, it says :
“Karakter siswa dalam kelas ini : Penerimaan otoritas kurang (tidak mengindahkan perintah orang lain); Kemampuan kognitif diatas rata-rata (superior); Kemampuan motorik halus sangat kurang; Ada 1 anak yang kemampuan komunikasinya kurang (tidak berbicara); Sebagian besar banyak bergerak dan memukul teman lain; Konsentrasi dibawah 7 menit (standar).”


:D


Syukurlah Abe bukan anak yang tidak berbicara (sebaliknya dia malah anak yang tidak bisa berhenti bicara)...
Syukur juga dia bukan anak yang suka memukul teman yang lain...
Tapi yang lain itu...much less, memang Abe... :D (susah diperintah, kegiatan motorik halus selalu membuatnya bosan -daripada mewarnai, meronce, menjahit, dlsb, dia akan lebih memilih kegiatan2 motorik kasar macam melompat, berguling (roll), lempar2 dll-, dan kemampuan konsentrasinya memang sangat pendek)


Komentar temen2 walimurid macam-macam:
“Wah kayaknya kelas preman nih, cewenya cuma 8, cowonya 20...”
“Untung anakku di I-D”...... :-S
“Eh, Wahid! yo pantes anakmu masuk kelas ini, wong ibuke yo pencilakan”.....
“Ha ha aku udah ngira kalo anak kita sekelas Wahida!!”...yang ini komentar Mbak Olive, salah satu temen dari TK yang Pasya, anaknya memang sama2 superaktifnya kaya Abe. Dia meneruskan, “Jujur kalo aku malah seneng kaya gini, jadi Pasya dapet gurunya juga yang cocok, sama-sama aktifnya. Soalnya pengalaman dulu-dulu kasian juga liat guru2 menghadapi si Pasya.”
Well, she got the point...


Komentar suami sih seperti biasa. “Wah ini sih kelasnya calon entrepeneur! InsyaAlloh!” Alamak...dalam banyak dosis, dia memang agak2 korban Purdi Chandra he he.


Hari pertama sekolah terbukti. Begitu pulang, jelaslah sudah betapa Abe punya idola baru yang dalam sehari sudah membuatnya terpesona dan tertarik (tertarik, itu penting, karena Abe sangat sulit tertarik sama orang lain dan cenderung cuek).


Panggilannya di sekolah Ustadz Bambang. Wali kelasnya Abe ini adalah satu-satunya wali kelas laki-laki di seluruh kelas 1. Waktu bertemu pertama kali dengan beliau, aku saja sudah ‘terpesona’. Kelihatan banget orangnya sabar tapi tegas, lucu tapi pinter dan jelas-jelas punya wibawa yang bagus. Tipe orang yang ketika dia mulai berbicara, bahkan anak se cuek dan se cerewet Abe dan Pasya pun akan bisa langsung diam memperhatikan dengan ingin tahu, apa yang akan dikatakan Ustadz.


Alhamdulillah...sepulang sekolah di hari pertama pun Abe sudah sarat cerita tentang Ustadz Bambang, dan semua dengan intonasi dan semangat yang positif. Di tengah jalan, diapun menyorongkan pipinya nagih hadiah ciuman dari aku yang sedang nyetir, sambil bilang, “Tadi waktu Ustadz Bambang bercerita, Abe sama sekali tidak berbicara lho...Abe mendengarkan thok, sampe ceritanya berakhir lho Buukk...”
“Iya iya...anak Ibuk pinter deh, makin pandai memperhatikan guru...”
Cup cup cup...He he

Subhanalloh...alhamdulillah...karuniaMu Ya Allah...


Thursday, July 12, 2007

Liburan Kuliner di Kampung


Gara-gara modem dirumah Kakung dudul, jadi gak bisa online deh…ini ngeblog aja musti ke warnet loh…hi hi hi. Tapi hebat, warnet di Tulungagung udah pada bagus dan rame nih…

Berikut ini journal selama beberapa hari liburan di kampung di Tulungagung…(full acara makan pokoknya)


Hari Minggu, 8 Juli 2007, pagi jam 8 kita meluncur ke Tulungagung. Perjalanan terasa sedikit lebih panjang dari biasanya karena tidak ada Bapak yang suka godain anak2 (dan godain Ibuk juga hihihi) dan melucu di sepanjang perjalanan. Pagi tadinya si Bapak plus Om Jess dan Om Kus memang berangkat ke Bogor dengan mobil Om Kus. Kangen ya…sebenarnya tadi malam (Selasa malam) Bapak udah ada di Surabaya, tapi baru nanti sore nyusul ke Tulungagung.

Sesampainya di Tulungagung tengah hari, Ibuk yang kelaparan (karena tadi pagi nggak sempat sarapan sendiri) langsung disambut “Sego Bantingan” ala Tulungagung he he aduh nikmatnya…Setelah hampir setahun booming, rupanya Sego Bantingan masih ngetrend juga rupanya (dan nikmatnya tak sedikitpun berkurang).

Fyi, sego Bantingan ini kalo di Surabaya disebut “Sego Sadhukan”, di daerah lain pun punya nama khas sendiri-sendiri, dari “Sego Kucing” (di Jogja) sampai “Nasi Lempar”. Ha ha ha aku pertamanya geli banget liat namanya yang konyol dan beberapa berbau vandalisme gitu.

Itu istilah2 lain dari Nasi Bungkus yang sebenarnya (maksudnya nasinya sekepal -makanya disebut nasi kucing, maksudnya seporsinya kucing he he-, trus lauknya juga sekedar telur separo atau ayam sepotong keciillll, plus sekelumit mie goreng, sambel goreng sekedarnya, pokoknya semua ala kadarnya). Harganya juga dibanting alias murah meriah (di Tulungagung cuma Rp. 1500 tapi dijamin nikmatnya masyaAlloh…) mungkin ini kenapa dikasih nama sego bantingan ya ha ha ha

Secara resmi, dimulailah liburan yang penuh petualangan kuliner ala kampung halaman tercinta ha ha ha. Sorenya, karena pas banyak sodara yang (katanya Emi) punya gawe, jadinya sampai malam menu kita adalah nasi2 hantaran yang khas old fashioned ala kampung gitu!! Aduh mak nyuss… Sambal goreng kentang+ubi yang kering dan pedas, mie goreng bumbu bawang dengan potongan kubis yang lebar2 dan taburan bawang goreng, sayur ‘lotho’ (kacang merah khas daerah sini) yang coklat pekat dan pedas, daging lapis berselimut serundeng (kelapa yang disangrai dengan bumbu) plus (ini yang paling mak nyuss) tahu goreng yang dimasak santan dan pedaaasss (alamak bener2 siap2 tambah cempluk deh sepulang liburan ini hueheuheuh).

Menu untuk anak-anak, sorenya Mbak Upik beliin sate ayam ponorogo Ibu At (depan perumahan bea cukai kedungwaru) favorit anak-anak… Malam itu Ibuk dan anak-anaknya berangkat tidur dengan perut cempluk semua he he… Alhamdulillah…


Senin, 9 Juli 2007

Hal yang paling menyenangkan anak-anak ketika berlibur di Tulungagung, tentu saja adalah berkumpul dengan keluarga. Kakung-Uti, Asnan (Uwa)-Mbak Emi dan Sena-Aaliyah. Apalagi ini sedang menghitung hari, sebentar lagi si Aaliyah punya adik. Asnan-Emi yang 12 Juli tahun ini genap 5 tahun menikah, sudah ‘menghasilkan’ 3 anak lho (wah produktif ya he he). Btw, cerita selengkapnya tentang Asnan-Emi bisa dibaca disini.

Eh, ada lagi yang spesial lho. Entah disengaja atau tidak, setiap kita yang dari Surabaya dateng rame-rame gini, Bu Kipir (tukang masaknya Uti) selaluuuu menyajikan menu2 yang jadi favorit kita (eh, kalo dipikir2 lagi, mungkin juga karena nggak ada tuh namanya menu kampung yang nggak favorit, alias semua enak dan ngangeni hi hi hi). Seperti hari ini, dar pagi sebenarnya aku sudah mengincar beli lodho, tapi langsung kubatalkan demi tahu kalo Bu Kipir masak Pecel Lele. Apalagi anak-anak ternyata juga sudah enjoy dengan rawon masakan Uti. Wah…hi hi

Pecel Lele ala kampungku ini bukanlah paduan lele goreng+sambal+lalapan lho. Bukan! Pecel Lelenya dimasak dari lele yang dibakar asap (biasanya beli di pasar sudah dalam bentuk dibakar gitu), dengan bumbu sambal goreng putih (minus cabe merah) yang pedesss, belimbing dan tomat (kebayang kan segernya he he) dan santan kental. Alamaakk… Kenikmatan makannya jadi tambah sempurna demi melihat wajah Bu Kipir yang senyum2 bahagia dan puas karena masakannya dapat sambutan seperti yang diinginkannya…he he

Trus siangnya, ada menu segar, es dawet Pak Eko (depan BCATulungagung)…masyaalloh segarnya. Dawetnya P. Eko ini aku suka banget karena aroma pandan dari dawet hijaunya kental banget (aduh kalo dipikir lagi apa sih yang aku ndak suka?? Hi hi). Bea juga suka banget dawetnya, sampai2 tiap ada orang yang makan, dia langsung mendekat dengan wajah mupeng, “Es dawet ya? Bea mau…!!”

Malamnya, menu ganti lagi (wah). Sudah dari sore Abe wanti-wanti ndak mau makan, karena nanti malam mau makan Mie Goreng Kabayan (depan LP/penjara TA) kesukaannya. Asal tahu aja, Abe (dan juga Bea) seperti sudah ketagihan sama mie gorengnya P.Bayan ini, tak pernah sekalipun kunjungan ke Tulungagung terlewat tanpa sempat makan menu ini.

In the end of the day, dalam hati janji2 deh, besok kalo udah pulang ke Surabaya, porsi yoganya Ibuk bakal ditambah 2 kali lipat deh!! Ha ha ha


Selasa, 10 Juli 2007

Beberapa kali Emi sudah merasakan sakit pinggang. Wah kayaknya hari melahirkan bakal ndak lama lagi nih. Kubilang pada si jabang bayi didalam perut “ayo nak, kalo mau keluar cepetan aja gih, mumpung Ibuk Anti masih disini, jangan ntar Ibuk Anti pulang ke Sby trus kamu lahir..!!” He he.

Pagi-pagi (sesuai rencana), kuajak Bea beli lodho. Ada kejadian lucu. Waktu menunggu penjualnya menyiapkan lodho plus sayur lothonya yg superpedas itu (lebih bertindak sebagai sambel alih2 sayur saking pedesnya), tiba-tiba Bea nyeletuk dengan suara keras, cadel dan lucunya itu “Mana Odhol nyaaa??? Ituuu diaaaa odhoolnyaaaa…!!” sambil dengan semangat nunjukin panci besar berisi lodho ayam. Semua langsung ketawa ha ha. Dari pagi memang dia menjalani semacam latihan mengucapkan kata2 “lodho” dan seringkali kepeleset jadi “odhol”. Tahu kalo dikatawain, dia malu-malu bilang (menirukan ucapanku sebelumnya tiap kali dia kepeleset ngomong) “odhol nya di kamar mandi ya Buk? Buat gosok gigi yaa??” Ha ha ha. Hancur deh dia jadi sasaran cubitan beberapa ibu dan mbak2 yang juga lagi beli lodho.

Jangan minta aku tuliskan bagaimana nikmatnya nasi lodho ayam deh…satu2nya cara hanya satu : datanglah sendiri ke Tulungagung, dan makan nasi lodho disitu!! Sudah tak terhitung rasa rindu dendam muncul di hati (atau pikiran?atau lidah?atau perut?hehe) orang-orang asal Tulungagung yang merantau atau hidup di daerah lain (seperti aku ini). Juga tak terhitung lagi deh orang-orang daerah lain yang akhirnya jatuh hati dan merindu dendam juga sama makanan khas Tulungagung ini (seperti juga suamiku).

Pada penasaran? Biar aja…he he he

Sorenya ada kejutan lagi dari Bu Kipir (lama2 memang aku curiga bahwa dia memang benar2 sengaja masak2 yang kesukaanku tiap kali aku disini lho, sumpah! Hi hi mungkin dia juga ketagihan sama rasa puas yang dirasakannya tiap kali mataku terbelalak demi liat masakannya dan berlanjut dengan acara makanku yang sangat berseleran he he).

Punten Pecel. Satu lagi magnet asal Tulungagung yang sudah teruji kehandalannya dalam membuat orang-orang yang pernah merasakannya, jadi ketagihan. Para perantau bisa-bisa memimpikannya di malam yang riuh di perkotaan. Anak-anak kost pada rindu ibunda dan kampung halaman Tulungagung Bersinar tercinta, dan para pendatang yang pernah merasakan, bisa-bisa bertekad menikah (atau besanan) saja sama orang Tulungagung biar lebih gampang merasakannya. Ha ha ha ha hiperbola banget ya!!!

Punten Pecel sebenarnya hampir sama dengan Nasi Pecel. Sambel kacangnya sama. Sayur2annya relatif sama (tapi yang paling oke untuk punten pastinya kembang turi doong). Lauknya juga sama, biasanya tempe goreng dan terasi kedele (terasi kedele ini, juga cuma ada di Tulungagung lho hi hi). Yang membedakan (dan yang membuat istimewa) adalah bahwa menu ini tidak menggunakan nasi biasa, tapi menggunakan punten. Punten ini adalah nasi yang dimasak ala nasi uduk (dengan bumbu santan, daun salam dan garam). Setelah masak dan tanak, dalam keadaan masih panas si nasi ini ditempatkan di lumpang beralas plastik, kemudian dijojoh (di pukul2) dengan ‘gedebog’ (bonggol batang pisang - bukan pohon lho, tapi batang) sampai lengket, lembut dan kalis menyerupai uli. Setelah dingin, baru kemudian dipotong2 kotak untuk kemudian disajikan dengan sayur, lauk, sambel pecel dan kerupuk unyil. Oya, khusus tentang kerupuk unyil ini, juga cuman ada di Tulungagung (alamak), kebetulan pabriknya deket rumahku dan huenaaakkkk nya nggak tertandingi kerupuk manapun didunia (hiperbola lagi deh ha ha).

Aku sendiri di Surabaya seringkali masak punten pecel. Tapi tetap saja tidak akan bisa sama dengan punten pecel yang dimasak di kampung. Bagaimana bisa sama, aku seringkali menjojoh pake alu batu (karena susah sekali mendapatkan gedebog di sby). Tempe surabaya juga berbeda dengan tempe di tulungagung. Kalo sambelnya sih beres karena aku selalu dikirimi Ibuk sambel bikinan Bu Kipir yang maut itu he he.

MasyaAlloh…nikmat sekali…(sekali lagi) tadi malam itu aku berangkat tidur dengan perut kosong (kebalikannya maksudnya hi hi hi)..


Hari ini, Rabu, 11 Juli 2007

Emi semakin sering merasakan sakit pinggangnya. Asnan sempat bilang, kalo sampe lahirnya si jabang bayi besok (tgl 12 Juli) berarti barengan sama 5th anniversary pernikahan mereka ya?? Pasti seru juga, 5 tahun pernikahan ditandai dengan kelahiran anak ketiga he he.

Abe udah semangat menyambut adik sepupu baru. Kalo dia memberi julukan Aaliyah ‘blokotito’ (ndak tau deh darimana dia dapat kata2 itu hi hi), maka si jabang bayi yang belum lahir, sudah disiapkannya julukan, yaitu ‘betita’…ha ha ha ada2 aja…

Rinduku sama mas iwan sudah hampir tak tertahankan (hikss), apalagi bulan2 ini memang dia sibuk banget, dari urusan buka gudang baru di Jember sampe lihat2 perkebunan sawit di balikpapan. Ini aja sebenarnya kepergian ke Bogor gak ada rencana yang khusus selain nemenin Om Kus, tapi karena sekalian pengen nonton bola Piala Asia di Senayan (alamak) jadinya dibelain pergi deh… Ah tinggal sebentar, nanti sore juga kan dia nyusul kesini hueheheh

Menu hari ini belum tahu, aku belum sempat ke dapur Bu Kipir di belakang dan sarapan…semacam agak2 protes deh dari tadi si perut…minta ke kamar mandi terus (ha ha ha). Kuputuskan untuk istirahat mengunyah barang sebentar hi hi. Tapi nanti kalo si mas udah datang, wah mana bisa kutolak, dia pasti ngajak makan diluar…nasi pecel plosokandang nduk!!... Bakwan depan golden swalayan yuuk!!...pingin sate kambing P. Nyoto (depan Barata) nih cay!!...alamaaakkkkk…..

(PS : sorry kalo gambarnya nggak nyambung sama isi postingannya ya…abisnya kangen…hikss..


Friday, July 06, 2007

Abe dan Toilet

Ada yang lucu kalo punya anak cowo...
Sekarang tiap pergi ke tempat umum dan Abe minta pipis, selalu deh pake acara bertengkar sama aku...
Gara-garanya, si Abe selalu minta masuk ke toilet PRIA.

“Lha aku kan cowok Buk...”
“Iya tapi kalo Abe masuk toilet PRIA, Ibuk gak bisa awasin Abe...Ayo, gpp kan Abe masih anak2, ke toilet WANITA aja ya..?”

“Ndak mauu....biarpun anak-anak, tapi Abe lho cowooooo...!!”
“Kalo lagi pergi sama Bapak juga, Abe boleh deh ke toilet cowo, Bapak kan bisa ikut masuk untuk mengawasi...Ibuk kan ndak boleh masuk toilet PRIA...? Trus kalo di tempat umum gini anak-anak kan harus diawasi terus kan?”
“Halaaaah Ibuuuuuk....keburu kebelet nih...!!”
“Ayo makanya ke toilet WANITA aja yuukk”
“Aku ini M-E-N, men!! Masuknya toilet harus di MEN..!!”

Sering2, tanpa menunggu lebih lama (karena udah kebelet kali ya) Abe trus langsung keburu masuk toilet PRIA tanpa persetujuanku. Kalo sudah begitu aku (dengan cemas) terpaksa nunggu di depan pintu, sambil seringkali diliatin dengan aneh sama pria2 yang keluar masuk toilet. Apalagi kalo toiletnya besaaar da rameee macam di mall gitu, tiap ada bapak2/om2 yang buka pintu untuk keluar masuk, aku selalu curi2 melongok kedalam toilet mencari2 Abe. Tambah aneh deh tatapan mereka....

Duuhhh....

Wednesday, July 04, 2007

What a Lazy Day...

What a lazy day...khas suasana liburan sekolah. Since Abe came up with the idea that he should be going nowhere during holiday, so here we comes....ngendon dirumahhh!!! hueheheh

Sepanjang hari dirumah ternyata menyenangkan juga, apalagi kalo liburan sekolah gini, rumah selalu penuh anak2 tetangga kanan kiri yang main. Dari yang seumuran Bea, temen sebaya Abe sampai cewe2 abg (yg sudah sejak kanak2 dulu mereka terbiasa menghabiskan waktu main dirumahku) rame main dirumah...extra cleaning work for sure, but its so much fun!!!

Just for a week anyway, next week Uti must be waiting for us to come to her house di kampung...so for the second week of holiday, 'll be prepare to grab those delicious food back hometown...n prepare to gain weight another 2 kilos ha ha

Tadi si Putri n Anis coba2 bikin rujak, resep baru katanya.."Tante...aku cari2 bahan di kulkasmu ya.."
"Boleh," kataku. Toh biasanya aku kebagian jadi pencicip pertama kalo anak2 lagi masak2 dirumah begitu huehheeh lumayan kan...

"Gimana Te? Enak gak?" tanya Putri ga sabar (anehnya dibelakangnya si mbak Prapti n mbak Pin lagi ngumpat2 ringan)
Sekilas kucoba, "Enak put, seger, kecutnya pas, kamu pake jeruk nipis ya?"
Tapi lama-lama....

"Aduh Puuuttt, pedesnyaaa!!! Ampuunn!!!!" dada sampe panas!!! Dasar Putri, dia cuman cengengesan aja..."Kasih Om Iwan aja nih, kalo sepedes ini, duuuhhh!!!!"

alamak.........

Sunday, July 01, 2007

Anak2 Datang dan Pergi, Ibu Guru Tetap Menyayangi

Kemarin –Sabtu, 30 Juni 2007- adalah acara perpisahan di TK nya Abe. Di akhir acara, semua anak satu angkatan (75 anak dari 3 kelas) bersama-sama naik panggung, berdiri ala paduan suara. Bersama-sama mereka menyanyikan sebuah lagu perpisahan yang meskipun tidak jelas liriknya, tapi sangat terasa syahdunya.

Melihat anak2 tak terasa air mata langsung mengalir haru. Beberapa teman walimurid sempat mengejek aku yang memang –seperti biasa- gampang sekali mewek terharu. Eh, tak berapa lama ditengah2 lagu, kulihat satu per satu mereka kok ikutan nangis juga, hiks...gimana sih (he he).

Di samping panggung berjajar semua ibu guru. Beberapa guru kelas terlihat melakukan beberapa isyarat untuk memberi instruksi anak2 dalam menyanyi. Tak perlu waktu lama kulihat banyak yang sudah sesenggukan juga. Ah! Suasana waktu itu memang syahdu banget..!! Percaya atau tidak, anak2 yang biasanya kalo dipanggung adaaaa aja yang berulah, kali ini sama sekali tidak!! Mereka tekun menyanyi dengan syahdunya. Aduuhhh....
Melihat para guru yang beberapa sampai sesenggukan itu, aku jadi berpikir. Salah satu hal yang pasti menjadi moment yang sangat berat buat para guru, mungkin adalah moment seperti ini. Ketika mereka harus melepaskan anak-anak yang lulus. (Mikir itu waktu itu, air mata jadi tambah deras deh T_T). Tak terbayangkan rasanya...

Dari awal masuk TK, sehari-hari dunia mereka penuh dengan anak-anak didik. Waktu banyak dihabiskan di kelas dengan anak-anak (apalagi kaya sekolahnya Abe yg fullday gitu). Di rumahku, hanya dengan 2 anak-anak saja sudah tak terhitung kelucuan, kekonyolan dan kejadian2 spesial yang terjadi (dari kecelakaan2 kecil sampai kebandelan2 yang menguji emosi) . Apalagi di kelas!! Ada 25 anak-anak dengan kelucuan dan kebandelan sendiri2. Kesannya pasti sangat dalam buat Bu Guru yang rata-rata memang modelnya penyayang anak itu (maklum guru TK).

Waktu melihat Bu Guru mulai sesenggukan demi melihat anak-anak menyanyi di panggung kemarin, aku jadi mengira-ngira apa yang ada dipikiran mereka. Harus merelakan anak-anak yang sudah sangat dekat di hati itu untuk meneruskan sekolah ke SD, meneruskan perjuangan mereka mencapai cita-cita. Membayangkan hari-hari kemarin berada ditengah-tengah hangatnya anak2 dan hari2 selanjutnya yang hanya tersisa kenangan. Pantas saja kalo sangat mengharukan, pasti terbayang satu2 wajah anak2 dan terbayang segala kejadian berkesan yang dialami selama bersama anak-anak.

Aku sendiri termasuk walimurid yang sangat sering ‘berkeliaran’ di sekolah. Maklum ibu rumah tangga, tak ada pekerjaan lain selain ngurusin anak-anak. Secara pribadi, aku sangat dekat mengenal para guru, bukan hanya yang kebetulan mengajar Abe.
Karena tugas dari Komite Sekolah, kalo ada guru yang sakit, seringkali aku datang menjenguk. Begitupun kalo ada yang melahirkan, tertimpa musibah (misal lumpur lapindo atau kematian anggota keluarga), aku seringkali datang kerumah mereka, berinteraksi dengan keluarga mereka dan lain sebagainya. Aku jadi tahu betapa dekatnya para guru dengan anak2. Ketika mereka berkumpul pun, topik yang dibcarakan adalah juga anak2. Tentang si Pasya yang susah dilarang kalo sudah mengejar pingin peluk si Amel, tentang si Ghofur yang suka menyusup ke kelas lain, tentang Chalita yang dorong2an bertengkar dengan Ofi di kolam renang. Everything! Kalau dipikir2, waktu yang dihabiskan ibu guru disekolah dengan anak2, bisa-bisa sama intensitasnya dengan waktu yang mereka habiskan dirumah bersama anak2 kandung mereka sendiri.

Rasa sayang dan kedekatan mereka kepada anak2 kita, bukan mustahil sama dengan rasa sayang kita yang orangtua kandung ini...

Jangan bayangkan guru TK akan sama dengan guru SD, SMP atau SMA lho!! Guru-guru TK ini, mereka bukan hanya mengajar, mereka juga mengasuh dan menjaga. Mereka menenangkan ketika anak2 kita rewel. Mereka membelai rambut anak-anak kita ketika bersalaman. Mereka merawat luka anak-anak kita ketika terjatuh. Mereka memberikan pelukan ketika anak-anak kita membutuhkannya. Mereka menyayangi dengan sepenuh hati...

Dalam sesengukan Ibu Guru kemarin, aku melihat semua...
Mereka melepas anak-anak pergi....
Mereka menyiapkan hati untuk siap menyayangi lagi, murid2 angkatan baru yang nantinya akan menghiasi hari-hari mereka lagi...selama 2 tahun....untuk kemudian melepas mereka lagi ketika lulus nanti...
Tak terbayang banyaknya rasa sayang yang ditebarkan para guru untuk anak-anak selama bertahun2 mereka mengajar ya...

Aku jadi rindu dengan guru TK ku dulu....
Namanya Bu Sangadah. Terakhir aku melihatnya sekitar 2 tahun lalu di Tulungagung, beliau sudah renta (maklum waktu dulu aku TK, dia adalah guru senior yang sudah setengah umur). The point is, dalam memoriku masih jelas tergambar sosoknya ketika mengajarku 26 tahun yang lalu. Masih jelas tergambar gaya sanggul rambutnya, tahi lalat besar di pipi kirinya, senyum teduhnya tiap kali menyambut di pagi hari, badannya yang agak membungkuk (mungkin karena terlalu banyak merendahkan wajah untuk bicara dengan anak-anak), sepatu hitam ala minnie mouse yang kuingat tak pernah berganti selama aku TK dan suara ketak-ketok yang ditimbulkan ketika beliau berjalan, aku masih bisa mengingatnya lho!! Suara seraknya yang tiba-tiba bisa menjadi tegas kalo menghadapi anak yang bandel, rasanya masih bisa kudengar dengan jelas terngiang di telingaku sekarang!! (aduh Ibu...doaku untukmu...)

Tak terbayang, berapa banyak para murid yang sampai sekarang masih mengenang beliau seperti aku. Seluruh hidupnya, yang beliau lakukan hanya mengajar dan mengajar. Kubayangkan hatinya sekarang pasti sudah berkemilau selaksa batu berlian karena terasah dan tersepuh untuk mencintai anak-anak didiknya silih berganti. Menerima mereka dalam asuhan kasih sayangnya dan melepas dengan doa dan haru airmata ketika anak-anak itu lulus sekolah. Subhanalloh...

Benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa. Seperti sebuah puisi yang pernah kubaca, “Ibu Guruku...kau adalah bagian dari doa malamku...”

(nostalgia tentang Bu Guru kita yuuk...)

Tuesday, June 26, 2007

Abe vs Konsekuensi

24 Juni 2007.
Alhamdulillah, barusan kemarin selesai bikin album alumni buat TK Al-Hikmah 2007. What a week! Proyeknya mendadak banget, cuma ada waktu seminggu dari nyusun konsep, desain, kumpulin data 75 siswa dan 22 guru (including those hectic photo sessions in classes that i was enjoooyyying sooo much :-D) sampe hari2 editing yg melolo (4 hari full depan komputer mak!!). By the time I finished, I could hear those fuzzy annoying sound inside my head, like there’s an old and disfunctioning fan was stuck inside my brain or something worse.
The thing is, I must love it! ‘Cos even though the timeline wasn't so tight, I always tend to be like that in every project I had....I, AM THE ULTIMATE HOPELESS N CURELESS PROCRASTINATOR EVER! :-D
Suami sering banget komplain tentang kebiasaan menunda-nunda pekerjaanku ini. Everything always goes hectic in the very last minute.



Anyway...


Tidak seperti album alumni biasanya, dari awal konsep aku sudah bertekad untuk mendapatkan testimoni para guru tentang semua murid, satu per satu. Dan subhanalloh, the Principle dan semua Bu Guru disekolah menunjukkan antusiasme yang sama, padahal di akhir tahun ajaran gini biasanya banyak sekali yang beliau2 ini harus kerjakan, dari review buku raport sampai nyiapin anak2 untuk pentas di panggung perpisahan. I have really to give them a very big credit for this.



Kalo ditanya bagian apa yang paling menyenangkan selama pembuatan album ini, definitely THE PHOTO SESSION...!! Semua foto2 anak-anak kuambil di sekolah. Di hari itu, aku yang biasanya ngedrop Abe sekolah di last minute (surprise surprise huh?? Hehe) pagi itu dengan tekad bulat, menjadi yang pertama datang ke sekolah. Jangan ditanya wajah dan sapaan keheranan dari para guru. Tapi setelah tahu tujuanku adalah untuk nongkrong di gerbang sekolah dan njepret semua anak2 kelompok TK B yang datang, Ibu Guru malah ketularan excitementnya. Murid pertama yang datang (setelah Abe yang once in his lifetime pagi itu mendapat kehormatan memakai rompi “Datang Pertama”) adalah Maya, temen Abe sekelas. As soon as she was photographed, Maya malah jadi asistenku, dia yang jadi penata gaya buat teman berikutnya yang datang. Dan teman berikutnya yang ternyata datang adalah Lia (alamak, Lia ini sangat2 camera freak!!). Jadilah, asistenku ada 2, Maya dan Lia. Abe yang sudah dipeseni dari rumah untuk membantu, malah ndak tahu sudah hilang kemana. The amazing thing happens afterward. Setiap anak yang sudah selesai dipotret hampir semua jadi asisten.



Kalo kita harus memotret anak2 TK dengan 1 atau 2 asisten, that would be neat. Tapi kalo memotret dengan 10-15 asisten yang semuanya anak2 juga, thats what I call CHAOS!!! Hehe.



Tiap kali ada yang datang, pasti langsung terkejut karena ke-15 asisten itu akan serta merta meneriakkan namanya “ADEELLL!!! STOOP!!! FOTO DULUUUU!!!”. And the next minute, si Adel ini sudah bergabung juga dengan teman2 yang meneriakinya tadi, ikutan jadi asisten dan meneriaki teman lain yang baru datang. Begitu seterusnya. Aku dan Ibu Guru piket yang menyambut anak2 di gerbang) sampai keringetan semua, bukan karena mengatur anak yang difoto, tetapi karena ribut mengatur para asisten cilik yang bersemangat 45 itu..!! Ohhh.what a day!!! :-D (dan Abe jadi semakin cuek krn dilihatnya sudah banyak teman2 ceweknya yang dengan senang hati menggantikan tugasnya hihihi)




OK.
Gambar kedua ini adalah salah satu halaman buku alumni itu yang memuat Abe. Inilah testimoni yang diberikan Ibu Ina, salah satu guru di kelasnya Abe, tentang Abe :


“Abe vs konsekuensi. Suatu hari Abe dan Iqbal harus menerima konsekuensi yaitu ikut belajar di kelas adik2 TK A (dibawah). Karena mereka tidak mau, mereka pun merayu-rayu Bu Guru berkali-kali. Tapi akhirnya Abe menyadari kesalahannya dan berkata pada Iqbal ‘Sudahlah Bal, kita menurut saja sama Bu Guru... Bu Guru kan orangtua. Kita harus menurut pada orangtua...Sudahlan Bal, ayo kita pindah ke kelas A...”
Di hari lain, sepulang sekolah Abe bikin heboh karena keluar kelas senyum-senyum dengan mulut diplekster lakban hitam! Itu adalah konsekuensi yang dipilihnya sendiri karena waktu berdoa tidak tertib dan bicara sendiri.”



Figure it out!!



Kayanya kalimatnya memang sudah cukup menggambarkan tentang Abe deh (-sigh-). Pernah Bu Ina cerita, selesai pelajaran berenang di sekolah, semua anak sudah keluar dari kolam renang, sedangkan Abe masih saja didalam dan menolak untuk keluar kolam. “Belum puas” katanya waktu itu. Bu Ina pun beri ultimatum, bahwa kalo Abe ndak mau mentas juga, konsekuensinya Abe harus mandi bilas dan pake baju sendiri tanpa bantuan dari Bu Guru. Dengan serta merta waktu itu Abe bilang “Iya kok Bu, nanti Abe mandi sendiri, Gak papa kok” sambil cuek meneruskan kegiatan berenang sendiriannya. Bu Guru pun kembali ke kelas dengan anak2 lain dan meneruskan kegiatan makan di kelas. Selang setengah jam, Abe belum kembali ke kelas juga. Ketika Bu Guru kembali ke kolam renang untuk mencari Abe, apa yang dilihatnya waktu itu sungguh bikin geli. What a mess. Wajah Abe frustasi ditengah kegiatan mandi, pake baju sendiri, dan beres2 peralatan berenang. Dilihatnya wajah Abe hampir meledak dalam tangis karena kesulitan melakukan semuanya sendiri.



Dibanding orang dewasa, anak-anak memang dibekali kemampuan untuk berbuat impulsif. Mereka cenderung melakukan apa yang mereka mau. Itulah kenapa orangtua menciptakan yang namanya konsekuensi. Agar orangtua bisa membantu anak-anak untuk mengontrol perilakunya. Bahwa terkadang, ‘hal-hal sesuka hati’ yang mereka lakukan itu, tak akan bisa lepas dari konsekuensi yang harus mereka tanggung. Anak yang suka memukul, akan dijauhi teman-temannya. Anak yang suka membangkang akan menerima konsekuensi dari orangtua (misalnya berupa ‘time-out’ atau pengurangan fasilitas tertentu). Konsekuensi dimaksudkan agar ketika dewasa, anak-anak belajar tentang tanggungjawab. Bahwa di lingkungan sosial, kita tidak bisa berbuat ‘seenaknya’ tanpa lepas dari konsekuensinya.



Masih kata Bu Ina, salah satu yang khas dari Abe adalah bahwa dia cenderung menyerahkan diri kepada konsekuensi demi dorongan impulsifnya. Aku nggak bisa berkata lain kecuali menyetujui, karena dirumahpun, dia selalu begini. Gak papa deh resiko nanti batuk, yang penting sekarang aku sangat pengen makan ‘Marbels’. Gak papa deh mandi dan beres2 sendiri nanti, yang penting sekarang aku mau puas berenang dulu. Biasanya sih, pada akhirnya dia selalu kerepotan dalam menghadapi konsekuensinya. Yang buat kami (aku dan suami) bersyukur, Abe sudah terlatih untuk tetap menjalani konsekuensi itu. Konsekuensi yang suah dia ketahui harus diterima bahkan sebelum dia melakukan suatu perbuatan yang beresiko. Walaupun dengan ngomel2, walaupun dengan keluh kesah setengah menghiba. Kami seringkali merasa geli, kadang-kadang hampir-hampir tergoda untuk jatuh kasihan melihat bagaimana dia melalui konsekuensi ini.




Nah...


Now, can you tell the storyline here?? Coba deh dihubungkan dengan topik ‘procrastination’ di awal tulisan tadi. Ada satu kalimat yang seringkali terceplos dari mulut suamiku tiap kali Abe menyerah pada impulsifnya (dan memilih menelan bulat-bulat konsekuensinya) : “embuh nurun sopoooo iku...” (gak tau deh, siapa yang dicontohnya...) sambil melirikku dengan wajah "can’t do anything about it" alias pasrah...



Jawaban self-defence ku selalu begini : “lhooo katanya mau anaknya jadi pengusaha, salah satu qualification nya katanya kan harus berani ambil resiko. People who take risk, they have to wellknown about the consequences too..” (ngeles.com deh hi hi hi)



Ha ha ha...somehow memang benar ya...buah tak bakal jatuh jauh dari pohonnya...

Saturday, June 23, 2007

Terjemahan Yang Aneh

Sudah lama aku (mata n kupingku) merasa terganggu about the way they translating english word into bahasa.

Contoh.

Di handphone. Frankly, I prefer the english language in it. Not that I wanna show 'sok inggris' off or something, but I just couldn't stand the bahasa in it!! 'Setting' word is translated into 'setelan' (reminds me of 'setelan jas') instead of 'pengaturan'??.......'option' word is translated into 'opsi' (why they don't use 'pilihan' instead???)

Di mail account juga gitu. Di yahoo.co.id kita bakalan nemu banyak terjemahan yang -sori aja- bikin mata sepet. The word 'account' diterjemahkan jadi 'akun' (aneh kann!???). Jadi kalo ada menu 'My Account', ketika menjadi bahasa, jadilah 'Akunku' (entah siapa yang jadi konsultan bahasa yahoo, atau siapa gerangan yg bikin mesin penterjemah otomatisnya, I don't wanna know..)

Eh, pagi ini buka blogger.com, same thing happens!! Di menu 'customisation' sekarang jadi 'kustomisasi' (terus terang aku jadi inget temenku yg bernama Bastomi). Menu 'preview' sekarang berubah jadi 'pratinjau' (coba hapus huruf 'u' di akhir kata itu, hhh....)

Aku mungkin juga gak akan bisa bikin terjemahan yang lebih bagus dari itu semua. Aku bukan ahli bahasa kan? Tapi in this world, masak gak ada sih yang bisa bikin better than that??


dan masih banyak lagi lho acara terjemah2 yang aneh2 gitu, dimana-mana....perihatin deh...seriously!!
my poor bahasa......

Saturday, June 16, 2007

Rewangan

Duh, udara Surabaya panas dan kering sekali hari ini. Mau ngapa2in jadi males banget moodnya. Suami yang tadi pagi berangkat ke Balikpapan baru telpon, cerita kalau malam ini dia akan menginap di pondok di tengah hutan sawit. “Wah, indahnya kalau kamu bisa ikut bersamaku disini malam ini sayang...”, katanya dudul, bikin udara disini jadi terasa tambah panas aja, hi hi hi.

Semalam aku pergi ke acara khitanan anaknya Mas Win, sepupunya suami. Mas Win sekeluarga sudah sekitar 5 tahun lebih menjadi salah satu keluarga pendatang di sebuah daerah pedesaan di Sukodono. Fyi, Sukodono ini walaupun tidak jauh dari Surabaya, tetapi suasananya sangat pedesaan banget. Satu rumah dengan yang lain tidak ada yang dibatasi pagar. Pekarangan rumah pun saling sambung menyambung dengan tetangga. Termasuk tenaman dan pohon-pohonnya. Satu pohon mangga akan dirawat (dan dinikmati hasil panennya) bersama-sama oleh beberapa keluarga yang tinggal berdekatan. Beberapa pekarangan yang menyambung jadi satu ini membentuk semacam ‘lapangan kecil’ di tengah-tengah beberapa rumah, dan ketika ada yang punya hajat seperti ini bisa dipakai sebagai tempat acara. Benar-benar mengingatkan aku pada mas kecilku, ya atmosfernya, ya suasana rumahnya, ya suasana pergaulan dengan tetangganya, semuanya...

Satu hal yang selalu menarik untuk dicermati ketika kita berada di hajatan di daerah pedesaan begini adalah budaya ‘rewangan’ nya. Secara umum, budaya ‘rewangan’ memang sudah lumrah terjadi sejak dahulu kala dalam masyarakat Jawa. Setiap ada salah satu anggota masyarakat yang punya hajatan, maka tanpa dikomando akan terbentuk dengan sendirinya semacam ‘panitia’ yang terdiri dari para tetangga dan sanak saudara. Job deskripsi masing-masing panitia ini pun juga tidak perlu lagi adanya komando. Biasanya sudah jelas, misalnya dala lingkungan tersebut siapa orang yang dikenal piawai memasak (maka otomatis dia yang akan mengerjakan tugas masak memasak). Memasakpun, juga begitu, ada yang ahli bikin jenang (dodol Jawa) maka tanpa perlu SK dia akan bikin jenang, siapa yang dikenal ahli masak soto maka dia akan masak soto. Tentu dengan ijin si empunya hajatan, but the point is, struktur kerja seperti itu sudah terbentuk kuat, tak perlu lagi adanya tetek bengek birokrasi dan yang amazing...no money talks here..!! Sesuatu yang sangat amat langka terutama di daerah perkotaan jaman sekarang. Di kota, setiap kita punya hajatan, justru it’s all about money...urusan perlengkapan, acara, dokumentasi, katering semua bakalan beres asal ada uang.

Balik ke rewangan. Tadi malam, di daerah Sukodono yang katanya sekarang mulai tersentuh aura metropolis Surabaya itu, aku masih menyaksikan sendiri jalannya budaya rewangan ini. Bahkan bersama ibu mertua dan beberapa saudara disitu, aku sempat terlibat perbincangan menarik tentang pernak-pernik rewangan ini. Ternyata walaupun sesama Jawa, satu daerah mempunyai mekanisme yang berbeda dengan daerah yang lain. Tidak usahlah kita bahas terlalu luas, di daerah Surabaya dan sekitarnya saja ternyata mekanisme ‘rewangan’ sudah sangat bervariasi. Dan semuanya berbeda dibandingkan model rewangan yang dulu sering aku saksikan di kampung halaman Tulungagung tercinta.

Seorang saudara bercerita bahwa di daerah suaminya sebut saja daerah A (aku lupa namanya huehehe, sebuah kampung lama penduduk asli Surabaya Timur), kira-kira sebulan sebelum hajat dilaksanakan, si empunya hajat biasanya lapor ke tetangga2 dan saudara2 sekaligus mengundang. Undangan ini jangan dibayangkan seperti di kota jaman sekarang yang berupa selembar kertas dengan desain cetak cantik dan dikirim via pos. Bukan. Undangan ini berupa sebuah kunjungan pribadi (silaturahim) yang bisa-bisa menghabiskan dari sore sampai malam beranjak larut. Untuk satu keluarga! Jadi kalau misalnya si empunya hajat memerlukan mengundang rewangan 30 keluarga, maka dia harus melakukan setidaknya 15 kali kunjungan (taruhlah 2 kunjungan dalam 1 malam). Coba. Kita yang sudah terjebak dalam ritme kehidupan modern jaman sekarang, pasti tidak akan sulit menemukan alasan ini itu untuk memilih telpon atau sms saja kan? Undangan 30 orang keluarga untuk rewangan bisa-bisa kelar cuma dalam waktu 3 malam, singkat, sama singkatnya dengan hakikat silaturahimnya itu sendiri.
Yang khas di daerah A ini adalah bahwa undangan itu biasanya disertai semacam order.

“Kita mengundang keluarga sampeyan untuk rewang, sekaligus memohon bantuan beras dan kentang. Untuk gula, kopi serta kebutuhan wedang kebetulan sebelum ini kami sudah ke adik sampeyan dan beliau sudah menyanggupi. Keluarga sepupu kita juga sudah menyanggupi kebutuhan terop dan sewa kursi”...dan seterusnya.

Jadi bisa-bisa, si empunya hajat ini pada akhirnya tidak perlu mengeluarkan biaya sama sekali karena semua kebutuhan sudah tercover oleh banyak keluarga yang diundangnya untuk rewangan. Terdengar egois dan tidak adil? Tidak juga, karena kalau orang lain yang giliran punya hajat, si empu ini pun akan mendapat order tersendiri juga. Jadi hajatan itu sendiri menjadi semacam arisan antar saudara dan tetangga. Kecuali bila mungkin ada keluarga yang tidak pernah melakukan hajatan tetapi sering mendapat undangan rewangan, lain lagi ceritanya.

Tetapi hey, keluarga-keluarga Jawa terkenal sangat kental budaya hajatannya (ini kalau bicara murni soal adat lho, sama sekali aku tidak bicara dalam konteks agama), jangankah peristiwa2 besar macam pernikahan atau khitanan, peringatan meninggalnya seseorang pun sarat akan acara hajatan.

Eh, tapi ada juga lho yang dudul. Di daerah Sukodono rupanya memang benar sudah mulai tersentuh metropolisnya Surabaya. Ibu mertua bercerita kalau sebelumnya, siang-sore banyak ibu-ibu sekitar rumah Mas Win yang datang membawa ember atau tas berisi segala macam sumbangan rewangan. Dari beras sampai gula, macam-macam. Ibu-ibu yang begitu saja tulus menyerahkan bawaannya kepada yang punya hajat (istri Mas Win) tentu saja mendapatkan ucapan terima kasih yang tulus juga dari tuan rumah. Tetapi, ternyata ada ibu-ibu yang ketika menyerahkan bawaannya, disertai dengan ‘kata sandi’ khusus. Kata sandi itu, cerita ibu mertua, adalah ‘fitrah’ (dalam logat Jawa sih sering terucap ‘pitrah’ :D he he). Ada beberapa ibu yang dia lihat mengucapkan “ini 1 fitrah mbak, sama gula 2 kilo” atau yang lainnya “ini 4 fitrah lo mbak”. Ibu mertua yang penasaran pun akhirnya menanyakan soal itu ke istri Mas Win.

Ternyata kata sandi ‘fitrah’ itu merujuk kepada istilah dalam zakat fitrah yang berarti ‘2,5 kilo’ sehingga ketika seseorang mengatakan 4 fitrah, berarti jumlah beras yang dia bawa adalah 10 kilo. Bukan hanya itu. Ketika ada seorang ibu mengatakan kata ‘fitrah’, itu adalah sandi bahwa tuan rumah harus segera mencatat nama si ibu, lengkap beserta barang bawaan dan jumlahnya. Kalopun tidak mencatat, tuan rumah si empunya hajat harus mengingatnya dan tidak boleh lupa. Katanya, itu pertanda bahwa biasanya dalam waktu dekat, si ibu ini akan melaksanakan suatu hajat juga, dan DIHARAPKAN tuan rumah ini nanti akan juga membawa sumbangan yang kurang lebih sama (kalau perlu lebih, yang jelas TIDAK BOLEH KURANG) dari apa yang pernah si ibu bawa untuknya. Kalau ini tidak terjadi, jangan salahkan si ibu pengirim kalau hubungan bertetangga atau persaudaraan akan menjadi taruhannya. Dudul kan? Walaupun aku yakin soal begini tidak ada hubungannya dengan adat (melainkan dengan sifat dan kepribadian individu nya sendiri), tapi tetap aja dudul kan..hi hi hi.

Indonesia dari sisi ini memang amazing ya...lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya...

;-)

Friday, June 08, 2007

Berkembang Terlalu Cepat

Bertahun-tahun aku belajar tentang tahap-tahap perkembangan anak di bangku kuliah, hampir semua teori terpatahkan oleh Abe.

Paling tidak sampai saat ini. Waktu Abe berusia 6-7 bulan dan aku siap-siap menyambutnya merangkak, dia malah memilih minta berdiri dan merambat. Belum selesai kewalahan dengan ini, umur 10 bulan ternyata dia sudah menjejakkan langkah pertamanya dan berjalan. Itu baru bicara motorik.
Umur 1,5 tahun, Abe sudah berbicara dengan sangat jelas dan banyak. Bukan hanya perbendaharaan kata, waktu itu aku sudah bisa mengajaknya diskusi atau negosiasi kalau misalkan dia meminta sesuatu yang tidak kuturuti. Dengan penjelasan yang masuk diakalnya, aku jarang sekali menemui kesulitan ketika harus melarangnya berbuat sesuatu. Ditambah lagi, aku memang jarang sekali mengatakan kata “jangan” sehingga sekalinya aku memakai kata itu, tahulah dia bahwa aku serius melarang.



Umur 2 tahun, tanpa belajar khusus dia sudah berhitung sampai 20 dan mengenal huruf (both dengan ejaan Indo dan English). Banyak ibu gurunya di sekolah yang keheranan ketika mereka bertanya apa resepnya sehingga Abe cepat sekali bisa membaca dan kujawab : tak ada resep. Aku memang mengajaknya bermain menempelkan huruf-huruf di tangga (sambil naik turun tangga karena memang dia tidak pernah betah duduk diam), tapi sungguh, tak ada program khusus apalagi kursus membaca buat dia. Berpikir untuk melakukannya pun aku tidak. Sudah lama aku merasa mulai menang melawan monster itu. Monster yang banyak menelan korban para orangtua jaman sekarang. Btw, tentang monster apakah yang kumaksud ini, silahkan klik tulisanku disini dan disini , semoga saja kita yang sudah menjadi orangtua benar-benar terhindar darinya.



Suatu hari di umurnya yang baru 4 tahun, dia pernah mengejutkan aku karena sudah bisa membedakan huruf Cina dan huruf kanji Jepang (padahal dia buta kedua jenis huruf itu). Dia suka sekali nonton Ultraman (penuh huruf Jepang) dan Power Ranger (beberapa versi Cina). Dari kesimpulan dan bahasanya sendiri dia cerita kalau “huruf Jepang itu kotak-kotak dan huruf Cina banyak garisnya”. Setengah keheranan, kucoba menunjukkan beberapa huruf Jepang dan Cina dan menyuruhnya untuk membedakan, dan dia berhasil tanpa cela.
Aku sendiri selalu berusaha untuk tidak memberi label apapun padanya. Banyak teman ataupun saudara yang berkomentar mungkin Abe salah satu jenis anak “berbakat”. Kubilang aku tidak percaya karena menurutku semua anak berbakat dengan cara mereka sendiri. Banyak juga yang menyarankan untuk memasukkan Abe ke program khusus anak-anak berbakat, dan kubilang tidak. Yang kuinginkan hanya satu, dia tumbuh apa adanya sebagai anak-anak, yang ceria dan bermain dengan bebasnya. Aku ingin dia tumbuh dengan alami, tidak terlalu cepat matang. Tanpa berbuat apapun saja aku sudah sering dibuat kewalahan karena dia cenderung cepat dewasa dari anak-anak seusianya, tak terbayangkan kalau aku harus mendorongnya untuk melakukan ‘pengayaan’ ini itu.



Anyway...



Menurut Teori Piaget, perkembangan moral anak terjadi dalam 2 tahapan yang jelas (“Perkembangan Anak” Jilid 2 hal.79 by Elizabeth Hurlock).


Tahap pertama disebut “tahap realisme moral” atau “moralitas oleh pembatasan”. Perilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran atau penilaian. Contoh : suatu tindakan dianggap “salah” oleh anak karena mengakibatkan hukuman dari orang lain misalnya orangtua.


Tahap kedua disebut “tahap moralitas otonomi” atau “moralitas oleh kerjasama atau hubungan timbal balik”. Dalam tahap ini anak menilai perilaku atas dasar tujuan yang mendasarinya. Di usia itu, mereka juga akan mulai belajar bahwa di dunia ini bukan hanya ada perilaku benar atau salah, tetapi juga ada banyak hal yang berada diantaranya. Mereka mulai belajar tentang kontradiksi dalam hidup. Anak-anak akan mulai belajar bahwa kadang-kadang seseorang mencuri susu karena memang anaknya kelaparan dan dia tidak punya cara lagi untuk mencari uang. Atau belajar bahwa didunia ini manusia terkadang melakukan “bohong putih”, bohong dengan alasan baik. Dan lain sebagainya, perilaku bukan hanya perkara benar dan salah, tetapi juga tergantung background dari pelaku perbuatan tersebut. Teori Piaget mengatakan tahap ini akan dimulai umur 7-8 tahun dan berlangsung sampai umur 12 tahun.



But I guess, aku sudah harus mulai terbiasa kewalahan karena Abe cenderung mendahului setiap teori Psikologi Perkembangan yang dulu kupelajari. Sekarang Abe 5,5 tahun, dan tempo hari dia sudah tanya-tanya tentang kenapa orang baik bisa berubah menjadi jahat dan sebaliknya. Dia juga bertanya dengan tak habisnya kenapa tokoh Harry di Spiderman 3 bisa sangat membenci Peter Parker, padahal mereka bersahabat baik. Di sisi lain, dia sudah bisa merasa kasihan pada si Harry atau Sandman!! “Kasihan ya buk, biarpun jahat sebenarnya mereka itu tidak mau jadi jahat lho...”



Belum lagi urusan menjawab pertanyaan tentang mati. Kewalahan aku dibuatnya. Yang bikin melas, dia sudah seringkali merasa berbuat dosa (seringkali karena hal-hal sepele khas anak-anak seperti ngusilin adiknya) dan ujung-ujungnya merasa menjadi “anak yang banyak dosa dan tidak berguna” <== ini kata-katanya sendiri lho, ngeri kan?? Aku kan jadi langsung teringat berita anak-anak bunuh diri karena merasa dirinya tak berguna itu??? Naudzubillahi min dzalik Ya Allah...astaghfirullohaladziimm..!!! Untunglah kata ‘bertaubat’ akhirnya bisa kutanamkan padanya dan berkali-kali kuyakinkan bahwa orangtuanya pun juga sering berbuat dosa, seperti semua manusia lainnya di dunia ini tanpa terkecuali. Bahwa semua anak-anak PASTI akan sering berbuat nakal dan dosa, karena mereka belum tahu mana yang benar dan salah.



Jangan ditanya lagi urusan tentang surga dan neraka. Suatu hari dia sempat bilang “Surga kan untuk orang baik dan neraka untuk orang jahat ya buk, trus kalo kaya aku? Anak baik tapi sering berbuat dosa, -tapi anak baik lho buk-, dimana dong tempatnya?” ^_^



Akan pasti sangat tidak bersyukur kalau aku tidak merasa bangga dengannya. Aku sangat bangga. Cuman –namanya manusia pasti selalu ada cuman dan tapi ya he he- kadang-kadang keadaan seperti ini kinda frightening me. Ibukku dulu termasuk orangtua yang sempat kerepotan karena aku harus baligh di usia yang sangat muda (9 tahun) dan sudah cukup banyak cerita dari beliau tentang repotnya menghadapi anak yang cepat sekali matang mendahului anak-anak seusianya...



Ah sudahlah, bagaimanapun, ini karunia dan ujian dari Allah... :-) Semoga aku bisa berbuat yang terbaik dengan amanah-Nya ini...

Tuesday, June 05, 2007

Ada lagi yang jatuh 7 lantai di mall. Di mall yang sama lho!! :o

Berita di koran Jawa Pos 2 hari terakhir ini bener-bener unbelievable! Masih hangat berita kemarin tentang Lyvia, anak 6 tahun yang jatuh dari ketinggian 3 lantai di ITC Mega Grosir, hari ini kejadiannya terulang lagi! Juga di ITC Mega Grosir!! Lebih tragis lagi tempat jatuhnya dikabarkan tidak jauh dari si Lyvia kemarin. Dan kali ini jatuhnya setinggi 7 lantai!

Korban pelakunya dewasa. Wajar dong kalo kupakai istilahnya ‘korban pelaku’? Karena dicurigai kali ini sebagai sebuah aksi bunuh diri. Berita selengkapnya bisa dibaca disini

What is up with that??

Apa karena dia sudah lama kepingin mengakhiri hidupnya, dan merasa ‘terinspirasi’ dengan kejadian Lyvia kemarin? Wah ini sih namanya inspirasi yang salah kaprah. Yang namanya inspirasi kan identik dengan passion untuk menjalani kehidupan, bukan kematian??

Hhhhhhh...the world has gone crazy, I know that, but the fact that it has gone THIS CRAZY, always hit me everyday...People keep shocked me with their story all the time...

Ya Allah...kepadaMu lah aku kembali...

Monday, June 04, 2007

Mall vs Kids

Pagi-pagi badan masih setengah pegal karena perjalanan tadi malam dari Tulungagung. Karena si mas mbelani anak-anak BGFC yang tanding, kita akhirnya baru mulai meluncur ke Surabaya pukul 7.30 malam, alhasil tadi malam baru sampe rumah jam 11 malam.
Selesai ritual biasa bangun tidur, aku baca koran, lha kok headline nya bikin miris. Another tragedy. Ada anak 6 tahun yang jatuh setinggi 3 lantai di mall, dan (tentu saja tidak mengherankan) meninggal. Berita selengkapnya bisa dilihat disini dan percayalah, siapapun yang sudah jadi orangtua, pasti tak bisa menyembunyikan pertanyaan ini “Kok bisa sich??”
Mungkin baik juga dilihat kesaksian Chem Fuk , ayah Lyvia Mudita (nama anak itu). Tentu tak ada satu orangtua pun yang menginginkan hal ini terjadi (bahkan tidak di mimpi yang terburukpun). Aku percaya itu.
Tapi...
Kadang-kadang aku berpikir, memang berat jadi orangtua. Tak boleh sedetikpun kita lengah kalau itu menyangkut keamanan dan keselamatan anak-anak kita. Sudah tak terhitung banyaknya kita baca berita anak-anak yang celaka bahkan meninggal karena kecelakaan rumah tangga, misalnya aja kesiram air panas. Atau aku pernah baca seorang bayi meninggal karena terinjak kakaknya. Masyaalloh, nggak bisa bayangin gimana perasaan orangtuanya, that must be the worst feeling a parent (even a human) can feel. Naudzubillahimindzalik...
To be honest, sebagai orangtua, aku sangat jauh dari sempurna. Anak-anakku pun juga tak luput dari kecelakaan-kecelakaan kecil, macam jatuh dari tempat tidur, atau terpeleset di lantai rumah yang basah, atau kepala benjol karena kejedug dan lain-lain. Tapi membaca kisah si Lyvia ini aku sempat mengernyitkan dahi juga.
Mall, indeed, is a very dangerous place for kids. Not only it’s full of strangers, but also because there are lots of instruments there, which are actually not suitable for children (in fact, some are stuff that have to keep away from children). Aku pribadi, selalu agak paranoid ketika mengajak anak-anak ke mall. Otherwise, if I need to do something that is not for kids (misal belanja dalam arti membeli sesuatu) I prefer not to take them along with me. Kalo aku pergi ke mall dengan anak2, selalu kuusahakan bahwa itu memang bener2 waktuku bermain dan jalan-jalan dengan mereka. Thus, I can be actually keep them under my eyes all the time.
Atau kalopun bawa mbak pengasuh, ketika kutinggalkan mereka harus dalam keadaan bermain di tempat yang tertutup dan aman (dalam arti tidak keluyuran di lorong2 mall). Tempat seperti ini kan sudah banyak dan selalu tersedia di hampir setiap mall. Dan selalu akan kupastikan aku kembali untuk mereka jauh sebelum jam bermainnya habis. Tak ada tawar menawar dalam hal ini. Apalagi dengan anak-anak seperti Abe dan Bea yang bahkan berhenti bergerak untuk sekedar menghela napas saja mereka tidak pernah.

Pernah juga, di suatu hari yang kacau (mendekati lebaran, mbak pengasuh sudah pada mudik sementara kita harus ke mall untuk beli sepatu karena sepatu Abe yg satu-satunya barusan jebol) aku kehilangan Abe di mall!! Gara-gara umek sama Bea (yg masih belajar jalan), dan si mas urusin pembelian sepatu, sedetik aku kehilangan pandang dari Abe dan sudah berbuah dia menghilang. Masyaalloh paniknya masih tak terbayangkan sampai sekarang!! Waktu itu aku ingat di Matahari sedang rame-ramenya orang belanja menjelang lebaran. Aku sendiri kalo gak sangat amat terpaksa gak bakalan deh belanja di Matahari dekat2 lebaran kaya gitu.
At the end of that day, tak pernah aku bersyukur seperti malam itu karena Allah telah mengkaruniakan kepada kami anak secerdas Abe. Dia kami temukan duduk di belakang meja kasir, sedang bercanda dengan mbak2 karyawan kasir. Disampingnya ada seorang satpam nungguin. Tak terkira leganya begitu kami lihat dia, tak kurang suatu apa. Bahkan wajahnya pun tak ada tanda2 cemas sama sekali. Begitu ketemu aku, kalimat pertama yang diucapkan Abe waktu itu, “Pak Satpam, itu dia Ibukku yang kubilang hilang tadi!!” sambil dengan antusias menunjuk aku. :D
Kejadian itu sudah lebih dari cukup untuk memukul seluruh isi kepalaku. Membunyikan alarm di otakku tentang bagaimana pentingnya memastikan anak-anak selalu dalam pengawasan selama mereka di mall (tanpa sedetikpun terlalaikan). Dengan tegas juga kutanamkan ke mbak pengasuh tentang bahayanya melepaskan anak-anak dari pengawasan biar sedetikpun. Makanya aku kadang2 suka memberi waktu khusus, kesempatan si mbak pengasuh untuk juga merasakan jalan2 di mall dengan bebas, biar ketika mereka harus menjaga anak-anak, mereka tidak lagi “lapar mata” dengan mall dan membuka kemungkinan mereka lalai pada tugas mengawasi anak-anak.
Back to Lyvia...
Ayahnya mengungkapkan kalo dia dan istrinya memang biasa melepas Lyvia di mall, karena si kecil 6 tahun ini sudah hapal keadaan mall tersebut. Jujur bagiku kebiasaan ini sangat amat beresiko besar. Namanya anak-anak kita tidak bisa mengandalkan mereka untuk selalu tertib setiap saat. Ada curiousity yang setiap saat siap mengambil alih kontrol terhadap mereka. Itulah kenapa kita tidak boleh (dan tidak pernah boleh) mempercayakan keselamatan anak-anak kepada dirinya sendiri. Kalo curiousity sudah mengambil alih, mereka sudah akan lupa pesan2 yang kita tanamkan tentang ketertiban dan bahaya. Penggalan berita Lyvia ini buktinya :
.... Chem Fuk tak pernah tahu persis saat-saat Livya celaka. Namun, rekaman CCTV ITC Mega Grosir menunjukkan bagaimana gadis itu tewas. Di video tersebut, terasa benar keceriaan dan "keusilan" seorang bocah kecil. Livya terlihat berjalan menuju travelator (eskalator tak berundak). Dua tangannya memainkan rambut, khas anak kecil. Sejurus kemudian, kaki-kaki kecilnya menaiki pembatas travelator yang seperti anak tangga. Tiba-tiba, kaki kirinya seperti terseret ban travelator. Setelah itu, tubuh Livya tak lagi terlihat di video tersebut. CCTV di lantai LG merekam tubuh kecil Livya terbanting ke lantai.....
Ngeri kan..??
Aku yakin sudah banyak kali si ibu-ayahnya pesan untuk tidak bermain-main dengan eskalator. Buktinya mereka sudah terbiasa melepas si Lyvia sendiri, ini kan berarti karena mereka yakin Lyvia sudah bisa dipercaya menjaga keselamatannya sendiri. Tapi apa daya kalo keusilan dan curiousity khas anak-anaknya sudah mengambil alih kontrol... ??? –sigh-
Pagi ini Abe ikut baca korannya...kulihat dia berpikir keras sambil dengan ngeri lihat foto2 jatuhnya Lyvia...(there, you really need to see that dear...take a lesson from it okay??) :D

Thursday, May 31, 2007

This Picture...Oh God...!!

I realize that we are living in a very cruel world. Tragedy is everywhere. But now take a look at this picture and tell me that your heart won't be melted...

This picture is courtesy of Jawapos, printed as a headline in this morning edition (printed in a laaarge size), shocked me in my lazy mood earlier this morning. God...they even have to put that black-square-mark in the point where the bullet hit.
Beritanya bisa di klik di sini tentang penembakan yang dilakukan para marinir kearah para warga yang melakukan aksi unjuk rasa di Pasuruan.

Rightaway, even until now, I can't stop to thinking what happen next to that child (btw his name is Khoirul Agung). The pain he has to get thru, the pain that his parent have to get thru, is he already dead by now? Or he will survive with severe injury in his internal organ that he has to carry thru his live?

My God.... T_T



MamaMia Show

Aku sama sekali bukan TV freak (apalagi sinetron, aduh ndak banget). Tapi akhir2 ini sempat kuliat di Indosiar gencar diiklankan acara baru bertajuk MamaMia . Pertama-tama kali liat iklannya I was like “what the heck?” another adaptation show again? Kabarnya ini show adalah hasil adaptasi (versi Indonesia) dari acara dengan judul yang sama di negara Brazil sana. Kalo pingin tahu kunjungi aja websitenya tapi it comes in spanish he he.

Show nya tentang kontes menyanyi (or popularity contest??) yang diikuti para abg cewe (+ibunya sebagai sang manajer). Audisi dilakukan di beberapa kota besar, lalu 75 pasangan anak-ibu yang terpilihpun terbang ke Jakarta untuk mengikuti kontes on air nya di Indosiar. Slogan yang dipake untuk acaranya “cuma buat perempuan” ha ha...but to me, (i hope) it’s not for ALL woman exactly... at least not for myself... :D

Tetek bengek rating, I don’t care. Kalopun nantinya aku nonton acara ini, I’m 100% sure because it’s just out of my curiousity. Thats all. Tapi, hanya dari melihat iklannya sekarang aja, ada beberapa hal yang really2 come to my concern already...(saat ini acaranya belum airing lho...tapi prihatinku sudah muncul membabi buta)

Pertama, basicly aku selalu prihatin melihat bagaimana kata “popularitas” hits people like hell !! What is up with that? Media2, buku2, diskusi, dll. rasanya perlu sekali lebih banyak mengulas bahwa masyarakat kita sekarang ini terlalu melebih2kan popularitas. Sebutan “artis dan selebritis” sangat dipuja, tanpa disadari bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, tanpa terkecuali, selalu datang dengan 2 sisi : plus-minus, keuntungan-kerugian, kebaikan-keburukan, enaknya-susahnya. Itu pasti !.

Masyarakat sekarang kayanya perlu banget lebih aware bahwa dibalik gemerlap menjadi “terkenal” dan “bintang” banyak sekali konsekuensi yang harus siap dihadapi dan seringkali sangat tidak mengenakkan (kalo mau ditulis apa saja itu, bisa2 sekarung sendiri postingan blognya).

Kedua, masih menyangkut poin pertama. Dalam hal ini di acara MamaMia ini kan pesertanya adalah kalangan remaja putri. Menghadapi konsekuensi menjadi “terkenal” buat orang dewasa saja sudah terbukti susah (banyak kita lihat para artis korban popularitas yang hidupnya jadi kacau kan??), apalagi ini harus dihadapi para remaja. Teenagers who are struggling like hell to be human, to find their own identity and their reason to live. Struggling just being what they are, being themselves and turned out to be happy with it. And now they have to be consumed by a monster named “popularity contest”?? Oh come on, like their teenage world isn’t too hard to bear already or what??

Ketiga, the mommies. Coba sekali lagi simak beberapa komentar para peserta audisi MamaMia ini. Ada salah satu peserta bernama Martha, ini kisahnya :

“Kekompakan mama dan putrinya ini terlihat dari Martha dan mamanya, Lasma,.........bahkan menurut Martha, sang mamalah yang memaksa dirinya untuk ikut audisi Mama Mia.”

Well, just grab your sense, I wouldn’t need to write no more bout it... –sigh-... It’s hard enough to be a mother (and father) who wouldn’t push anything we want (or dream of) to our kids, in fact, it’s almost impossible to do that. Sure, we told the kids to do this and that all the time, to behave in front of other, etc. but I truly hope that I won’t ever (ever!) tell my kids to do anything so they can be in a popularity contest and eager to be a celebrity. Never!

Jujur, aku sudah cukup prihatin melihat pasangan anak-ibu yang dengan sama centilnya menyatakan antusias mereka untuk meraih “bintang” dan menjadi penyanyi terkenal (dan ibu dari penyanyi terkenal. Lebih prihatin lagi deh melihat para “stage-mom” yang justru lebih antusias dari si anaknya sendiri, malah “memaksa” anaknya untuk menjadi populer ini...

Hhhhh.......

Saturday, May 26, 2007

Another Life Come and Go : In Memorial of Salman Nurdin

Rabu kemarin, setelah 9 bulan yang berat karena placenta-previa dan bedrest (percayalah, bagi mall freak macam dia, bedrest memang bener2 siksaan), akhirnya Mba Olive melahirkan. Sesuai yang diduga dan dulu sempat ditakutkan, via operasi caesar. Lahirlah Rayya Khalila Yudhistira, berat 3,2 kg panjang 50 cm. What a beautiful baby!! Kata Mba Olive, dia mirip banget Pasya waktu lahir dulu.

Satu lagi kehidupan tumbuh mulai menancapkan sejarahnya di bumi ini. Mencerap hangatnya matahari pagi, bersiap dengan teriknya matahari siang hari, n hopefully in the end of her day, she’ll embrace the warmth n beauty of the moon n living in a light of her own star...

Life is coming n going all the time...
This week, I see a life goes too, pergi meninggalkan dunia ini. Siang2 dapet berita duka. Pretty shocking, one of my highschool-mate had just passed away.

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun...

Salman Nurdin. Aku sudah kenal Salman sejak SMP (itu berarti sejak 18 tahun yang lalu!! Subhanalloh..) dan kita sering dipertemukan di kegiatan2 OSIS. Sebagai salah satu putra dari (alm) Bpk. Rofiq Singodimejo, tentu dia sudah punya tiket untuk menarik perhatian para kakak kelas aktivis kerohanian Islam di sekolah. In almost no time, Salman sudah aktif memimpin kegiatan2 Rohis di SMP kita dulu, dan berlanjut ketika kita di SMA. Back in Tulungagung, komunitas muslim pasti kenal siapa Pak Rofiq. Dia salah satu tokoh Islam yang waktu itu aktif dimana-mana, ceramah, pengajian, kajian Islam dll. Seingatku dulu aku selalu bilang ke Salman betapa dalam banyak hal, gayanya sangat mirip Pak Rofiq. In fact, dari semua saudara2nya, kulihat Salman lah tempat dimana Pak Rofiq banyak menitiskan karakternya. Kalo bicara selalu penuh semangat, yet, sarat dengan kebijakan. Penuh keyakinan dan percaya diri, yet, penuh tenggang rasa dan kerendahan hati. Kadang2 agak keras kepala, tapi di lain waktu dia dengan lembut mengatakan "aku bilang apa..bener kan?" :D

Biar seorang Ketua Rohis di SMA, dia itu tipe orang yang akan bisa bergaul dengan siapa saja, bahkan dengan temen yang ada di black list para guru sekalipun. Dari teman yang tertib di sekolah sampai yang bandel, dari yang semangat diskusi sampai dengan yang sinis pada semua pendapatnya, dari yang rajin mencarinya untuk sama2 berproses mencari “pencerahan” sampai yang harus “dikejar2” Salman untuk sekedar memberi undangan kegiatan pengajian, semua diladeni Salman. Istilahnya, kalo dalam dunia dakwah, dia itu bisa masuk ke semua komunitas masyarakat.

Bagi aku pribadi, kita punya bentuk hubungan yang agak unik. Karena kebetulan orangtua kita berdua saling kenal dan berteman, diluar kegiatan sekolah kita jadi sering berinteraksi. Dalam banyak hal, Salman bisa membimbing sekaligus tempat curhat. Kebanyakan curhatku tentang tetek bengek kegiatan di OSIS dan posisiku (waktu itu Sekretaris OSIS) yang dilematis, berada ditengah2 blunder antara pimpinan (Ketua OSIS) dan teman2 yang berada dibawahnya (para pengurus dan temen2 siswa lain).

Baginya, aku mungkin bisa dibilang teman yang ngeyelan, susah dibilangi dan diajak berpikir. Buktinya dia sering banget ngurak2 aku untuk berpikir. Salman termasuk orang yang berpendapat bahwa berpikir tidak bisa dilakukan kalo kita sedang bicara...dan aku adalah orang yang buuanyaakk sekali bicara! Hehe...

Salman juga pernah memprotes keputusanku untuk selalu berada di “zona aman” dalam suatu kontroversi. Kontroversi memang tidak pernah kubiarkan menggangguku karena menurutku itu hal yang alamiah dan manusiawi. Kalo diurusi terlalu berlebihan malah akan bikin rame. Dan aku paling males kalau harus rame (baca: berdebat) dengan orang lain. Tapi somehow, kadang-kadang aku merasa sekali dua kali, dia perlu mencariku ke kelas justru untuk ini, untuk mendengar dari mulutku bagaimana sebuah kontroversi menjadi suatu hal yang tidak perlu diperdulikan. Menjadi hal yang kadang2 perlu dibiarkan apa adanya. Mungkin itu adalah waktu2 dimana dia perlu time-out, perlu istirahat dari dunianya yang penuh dengan proses perdebatan dan diskusi dengan orang lain (orang lain = bukan hanya teman, tapi juga bpk/ibu guru, pegawai sekolah, dll)

Dia juga sering bilang aku itu orang yang sangat naif. Dia pernah bilang tak tahan dengan teori optimistis yang kuanut (“kuanut?” Ha ha itu actually kata2nya..go figure!...‘filsafat bgt’...). Katanya aku terlalu optimis tentang apa saja, saking optimisnya sampai jadi naif, n he said he couldn’t stand that.
And ini semua terjadi waktu kita SMA lho!! Masa2 abg pencarian jati diri kita masing-masing. Tapi Salman, he’s way too much deeper that his biological age that time.

Tapi namanya teenager, tentu ada masa2 dudul khas remaja...
“Heh, ada temenku yang naksir kamu tuh kayaknya, Man,” suatu kali kubilang padanya dengan usil.
Si Ketua Rohis yang ini tidak akan tersipu malu mendengarnya, dia malah membalas “Temenku ada juga yang naksir kamu tuh, trus piye? Didadekno ae kabeh opo piye?”
Sure, dia tahu pasti tentang prinsipku untuk tidak berpacaran sebelum lulus SMA. Dan jawabannya itu sudah cukup untuk membuatku terdiam...

Masa kuliahnya di Hubungan Internasional FISIP Unair, tak banyak kutahu. Itu adalah masa dimana kami sempat lost contact. Aku masih ingat dia mengacungkan 2 jempolnya untuk mengomentari keputusanku menikah muda di semester kedua kuliahku (sementara banyak teman lain konon menggosipkanku hamil sebelum nikah ha ha ha). Itu pertemuan pertamaku dengannya setelah menikah. Pertemuan tidak disengaja di parkiran Psikologi depan Perpus Besar Unair. Sangat membesarkan hati. Sehabis itu, lamaaaaa lagi tidak ketemu Salman. Lost contact lagi...

Bagi yang sudah lama mengenal Salman dan mengikuti kabar2 tentang dia, pasti sudah tahu, masa2 tahun2 kuliah selanjutnya, was history...


Cerita tentang bagaimana Salman mengalami transformasi yang membuat semua orang, bahkan keluarganya tercengang. Bahkan mengelus dada. Cerita tentang bagaimana semua orang mengkambinghitamkan ilmu filsafat yang sedang dipelajari Salman sebagai penyebabnya. Aku tidak akan menulis apa-apa disini, karena aku tidak mengetahui dengan pasti. Bagiku semua hanya sebatas kabar yang kudengar tentang dia. Dan selama waktu itu, aku memang tidak mendapatkan kesempatan bertemu dengannya atau menanyakan apa yang sedang terjadi.
Tapi deep down in my heart...aku tidak sempat merasa heran apalagi tercengang...aku tahu Salman, hal seperti ini sangat tidak mengherankan terjadi padanya. Dia sedang dalam proses pencarian sesuatu...entah apa itu, but I believe it was something big...dan kontroversi tentang dirinya ini, sekali lagi, tak kubiarkan menggangguku...

Lost contact itu begitu lama...hanya kabar burung jugalah yang sampai padaku, rumor tentang meninggalnya Pak Rofiq yang dikaitkan dengan ketercengangan dan pencarian Salman tadi. Aku tak berhak menulis apapun tentang itu...

Sampai kudengar kabar duka itu....sms seorang teman SMA yang mengguncangku siang itu. Salman pergi untuk selama-lamanya, Rabu 23 Mei 2007. Untuk beberapa jenak aku tersedot ke ruang hampa. Salman...
Kubayangkan, pasti tak terhitung banyak kali kau pernah diskusi atau bicara tentang ini pada orang lain, betapa semua yang bernyawa pasti akan mati, betapa hanya Allah SWT yang memegang rahasia tentang umur manusia, betapa kita tidak akan pernah tahu kapan dan berapa lama waktu kita...

Ini waktu untukmu kawan...rahasiaNya untukmu sudah terkuak untuk kita yang kautinggalkan...
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afini wa'fu'anhu...

Maafkan aku yang karena jarak dan waktu tak bisa mengantarkanmu ke peristirahatanmu yang terakhir. Yang kuterima hari ini hanya sepenggal cerita dari ibukku yg melayat. Sepenggal cerita yang (seharusnya tidak perlu) meninggalkan sesal...tapi apalah diriku...hati yang lemah dan gampang dihinggapi sesal ini...

Ternyata sudah lebih setahun ini Salman divonis kanker paru2. Tahun lalu sempat operasi pengangkatan sel kanker. Tapi rupanya karena sudah parah menyebar, operasi pun masih menyisakan sel2 yang kemudian tumbuh kembali menggerus paru2nya. Yang menyisakan sesal dihatiku, aku sama sekali tidak tahu kalo selama ini Salman actually tinggal di Surabaya!! Ketika terakhir kudengar dia menikah, aku berasumsi dia tinggal di Tulungagung karena semua cerita kalau Salman harus membantu Ibunya mengurusi usaha keluarga sepeninggal Pak Rofiq.

Sebelum meninggal, Salman malah sempat dirawat selama 52 hari di RKZ!! Tanpa kudapat kesempatan untuk membezuknya, karena ketidaktahuanku (benarlah pepatah “ignorance makes u blind”). Kata ibukku, isterinya bercerita bahwa disaat2 terakhirnya, Salman hanya mau mendengarkan lagu2 Ebiet G. Ade...ah teman, ketika kau merasa sudah diujung umurpun, rupanya kau tidak berhenti berproses. Dengan lirik2 lagu Ebiet yang dalam akan makna dan balada itu...
Salman menikah dengan seorang wanita asal Tulungagung juga (happens to be my lil bro’s friend) dan tinggal di sekitar BNI Graha Pangeran yang actually dekat dengan rumahku!! Inikah salah satu rahasiaMu juga Ya Allah? Tak sempat kau pertemukan aku dengan temanku ini sebelum dia menghadapMu..?

Salman meninggalkan 3 orang anak2 yang masih balita. Anak sulung 3,5 tahun dan sepasang kembar yang masih berumur 2 tahun...masyaalloh, mereka anak2 yatim sekarang... Aku seorang ibu yang tidak mungkin tidak teriris melihat ini...

Salman...
Manusia diukur berdasarkan manfaat yang diberikannya kepada orang lain. There my friend, u have me, pertemanan kita bagiku sarat akan manfaat dan pelajaran. Terima kasih...

Selamat jalan kawan...selamat berproses di duniamu yang baru...

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

tempat terakhir (alm) Salman beraktivitas :
http://www.pusdakota.org/htmlInd/inspire.htm

obituari lain untuk Salman Nurdin :
http://ynugroho.multiply.com/journal/item/15
http://didut.nomadlife.org/2007/05/selamat-jalan-sahabat.aspx


Wednesday, May 23, 2007

Sekolah Para Binatang

SEKOLAH PARA BINATANG

Suatu ketika di dunia binatang hendak didirikan sekolah terbaik yang diharapkan bisa mengajarkan berbagai macam ketrampilan kompleks. Maksudnya supaya para binatang bisa improve their quality, dengan cara menguasai banyak ketrampilan binatang sekaligus.

Sekolah tersebut akhirnya berdiri dan menjadi sekolah yang paling lengkap fasiltasnya dan kurikulumnya pun paling beragam, mencakup hampir semua ketrampilan binatang yang ada di dunia ini. Dari ketrampilan berlari, berenang, terbang, memanjat, melompat, memburu mangsa, menghindari kejaran predator, sampai dengan mencari makanan semua diajarkan dengan pengajar profesor yang ter-ahli dibidangnya masing-masing. Profesor cheetah mengajar kelas berlari, profesor elang mengajar di kelas terbang, dan lain sebagainya.

Seekor murid kanguru bermaksud meningkatkan ketrampilan dengan mengikuti kelas berlari. Selama ini dia merasa kemampuan berlari nya sangat kurang, walaupun di kelas melompat dia menjadi juara kelas. Alangkah baiknya kalo dia bisa meningkatkan kemampuan berlarinya. Yang pasti, dia akan membuat bangga orangtuanya. Bayangkan saja, orangtua kangguru mana yang tidak bangga punya anak kangguru yang selain hebat melompat, juga bisa berlari dengan kencang.

Tapi sekeras apapun dia belajar untuk berlari, dia selalu gagal menyamai prestasi berlari teman-temannya yang lain. Dia selalu tertinggal. Di rumahpun, dia melakukan semacam les tambahan untuk memacu kemampuan berlarinya. Seluruh waktu nya dicurahkannya untuk berlatih berlari dan berlari. Dan semakin dia belajar, semakin dia merasa depresi karena dia belum juga bisa menyamai kemampuan teman2 nya di kelas berlari. Akhirnya suatu hari dia bukan hanya depresi dengan kemampuan berlarinya, karena waktunya habis untuk belajar berlari, ternyata dia juga sudah lupa bagaimana caranya melopat.

Murid penyu selalu merasa dialah murid terbodoh. Kemampuan berlarinya payah, melompat dan terbang apalagi. Dia juga tidak punya aura predator yang selalu mengundang decak kagum binatang lain. Semakin dia melihat kemampuan binatang-binatang lain, semakin dia merasa gagal sebagai makhluk hidup. Dia tahu ibunya selalu bilang bahwa merekalah binatang yang paling telaten dan sabar. Banyak hal2 yang tidak bisa dilakukan binatang lain, bisa mereka lakukan berkat kesabaran dan ketlatenan mereka. Binatang mana yang bisa mengerami telurnya begitu banyak di pantai dalam waktu begitu lama kalau bukan mereka, para penyu. Binatang mana juga yang bisa menyimpan cadangan vitamin D terbanyak di cangkangnya kalau bukan mereka. Walaupun tidak bisa berlari cepat, merekalah binatang yang bisa hidup paling lama. Bahkan ketika nanti para penyu meninggal atau punah sekalipun, mereka akan tetap meninggalkan cangkang yang sangat berguna bagi bumi ini. Tapi tetap saja, melihat bagaimana hiruk pikuknya kelas berlari membuat si murid penyu merasa sangat tidak berguna.

Si murid ikan juga tak luput dari depresi karena saking giatnya belajar terbang menyebabkan salah satu siripnya patah dan dia tidak lagi bisa berenang. Si monyet memenuhi waktunya dengan jadwal les berenang tambahan sampai2 dia lupa bagaimana caranya memanjat.

Sekolah itu jadi kacau....!!!
Dunia binatang jadi kacau...!!!

Jadi kenapa tidak kita biarkan saja ikan berenang, dan biarlah si cheetah yang berlari...
Biarkan ular merayap dan monyet yang memanjat...
Semua makhluk pasti menyimpan kelebihan dan kekurangan yang akan membuat dunia ini menjadi tempat yang justru sempurna untuk dihuni bersama-sama...

Wahida
(ide cerita : abis baca ensiklopedi binatangnya abe)