Wednesday, January 16, 2008

Coping With Stress

Tulisan di postingan ini boleh dibilang adalah additional part dari postingan ini . Disarikan dari buku Essentials of Understanding Psychology by Robert S. Feldman.

COPING WITH STRESS

Coping disini mengacu pada usaha untuk mengontrol, mengurangi atau belajar mentolerasi suatu ancaman yang bisa membawa seseorang kepada stress. Seseorang bereaksi terhadap ancaman dalam 2 fase, yaitu secara bawah sadar (unconscious) dan secara sadar (conscious).


Defence Mechanism : Senjata Bertahan Bawah Sadar Kita.

Secara bawah sadar, ketika seseorang menghadapi situasi stress yang mengancam, maka secara otomatis dia akan mengaktifkan mekanisme pertahanan dirinya (defence mechanism=strategi bawah sadar seseorang, berupa reaksi yang bertujuan untuk mempertahankan kontrol seseorang terhadap dirinya sendiri ketika berhadapan dengan ancaman / kecemasan).


Teori yang ditelurkan oleh si Bapak Sigmund Freud ini mengatakan bahwa suatu kecemasan (yang ditimbulkan oleh stress) adalah ancaman untuk ego kita, dan untuk itulah mekanisme pertahanan diri harus keluar. Defence mechanism bekerja dengan cara “menyembunyikan” sumber kecemasan, baik dari dirinya sendiri maupun dari orang lain.

Beberapa defence mechanism yang biasa digunakan adalah :

o Repression (represi) : merupakan defence mechanism yang paling primer, ini adalah ketika seseorang menekan kecemasan / stress yang timbul kembali kedalam alam bawah sadar. Daripada membiarkan dirinya sadar bahwa dia sedang mengalami kecemasan, seseorang ini lebih memilih untuk mengabaikannya saja. Walaupun begitu, bukan berarti sumber kecemasannya berhenti mempengaruhi. Bisa saja kecemasan / stress nya muncul dalam bentuk-bentuk bawah sadar, misalnya : dalam mimpi, slips of the tongue (keceplosan), atau secara simbolis pada cara berpakaian misalnya.


o Regression (regresi) : ketika cara-cara represi tidak berhasil, beberapa orang kemungkinan akan memilih menggunakan cara ini. Cara ini adalah ketika seseorang menunjukkan perilaku selayaknya tahap perkembangan lebih dini (misalnya perilaku tantrum, mengeluh atau memukul ala anak 3 tahun). Dengan berperilaku demikian, seseorang berharap ada kemungkinan tuntutan yang diarahkan terhadap dirinya bisa berkurang.


o Emotional Insulation : ketika seseorang memilih untuk tidak merasakan emosinya, sama sekali! Dengan “mematikan” emosi ini, diharapkan kecemasan atau stress yang dialami tidak akan bisa mempengaruhi dia.


o Displacement (pengalihan) : ketika ekspresi dari perasaan dan pikiran yang tidak diinginkan dialihkan dari pihak yang mempunyai kekuatan lebih kepada pihak yang lebih lemah. Contoh : ketika seseorang merasakan kemarahan karena perlakuan yang tidak adil dari gurunya, memilih untuk pergi ke toilet sekolah dan memukul keras-keras tembok toilet untuk mengekspresikan kemarahannya.


o Rationalization (rasionalisasi) : adalah ketika seseorang membelokkan realita dengan cara membenarkan (justifying) apa yang terjadi. Kita mengembangkan alasan dan penjelasan yang bisa melindungi harga diri kita. Contoh kasus : seorang istri yang sering dipukuli suaminya berkeras bahwa suaminya melakukan itu untuk mengajarkan disiplin kepada dia, istrinya.


o Denial (penyangkalan) : ketika seseorang menolak untuk menerima atau menyadari datangnya sesuatu yang akan menyebabkan kecemasan pada dirinya. Contoh kasus : seorang suami yang diberitahu bahwa istrinya baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal, kemungkinan akan langsung menyangkal dengan mengatakan “pasti ada kesalahan”. Baru ketika kemudian kesadarannya meningkat secara perlahan dan bertahap membuatnya bisa menerima kenyataan bahwa istrinya sudah meninggal. Dalam kasus yang ekstrim, bisa saja penyangkalannya berkelanjutan dan si suami ini terus mengharap bahwa suatu hari istrinya akan pulang kerumah, hidup-hidup.


o Projection (mengarahkan) : ketika seseorang melindungi dirinya sendiri dari kecemasan dan stress dengan mengarahkan perasaan, ketidakmampuan dan kesalahan kepada orang lain. Contoh kasus : seorang suami yang diam-diam merasa tidak mampu secara seksual mungkin saja mengeluh sana sini betapa istrinya lah yang sangat tidak layak (secara seksual).


o Sublimation (penghalusan) : ketika seseorang berusaha mengatasi kecemasan dengan cara mengalihkan impulses (dorongan hati)-nya kepada pikiran, perasaan atau perilaku yang lebih bisa diterima oleh masyarakat sosial sekitarnya. Menurut Freud, mekanisme ini dinyatakan sebagai yang paling sehat, bisa diterima orang-orang di sekitar dan bisa menjadi sesuatu yang produktif.


Bagaimanapun, satu hal yang menjadi masalah dengan defence mechanism adalah bahwa individu yang bersangkutan tidak menghadapi kecemasan / stress yang terjadi, melainkan cenderung untuk “menyembunyikan” realitas / kenyataan bahwa ada masalah yang terjadi.

Karena itulah kemudian dari banyak studi yang dilakukan, ditemukan bahwa manusia juga mempunyai kemampuan untuk mengatasi kecemasan dan stress dengan cara-cara yang positif dan langsung, dalam hal ini disebutkan bahwa usaha-usaha itu dilakukan dalam fase conscious (fase sadar).



Kesadaran dan Strategi : Senjata Mengalahkan Kecemasan Kita

Dalam banyak review, disebutkan bahwa strategi coping (with stress) manusia dilakukan secara sadar dengan cara yang digolongkan menjadi 3 kategori :

1. PROBLEM SOLVING

Kita mengalahkan stress dengan cara menyelesaikan problem stressor (hal yang membuat stress itu). Misalnya, kita stress karena menderita suatu penyakit, maka kita menyelesaikan masalah dengan berobat sehingga penyakit kita bisa sembuh. Atau bisa juga dengan mengusahakan agar kita bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi (bila situasinya sendiri tidak bisa dirubah).

2. AVOIDANCE

Kebalikan dari problem solving”, dengan teknik ini seseorang menghindar. Menghindar dari orang lain, atau dengan cara-cara seperti : daydreaming (memimpikan) masa2 yang lebih baik, menonton TV lebih banyak dari sebelumnya, dll. (hemm...this one seems like ‘lil bit of unconscious way of defence mechanism to me-wahida)

3. SEEKING OF SOCIAL SUPPORT

Dengan teknik ini, ketika seseorang menghadapi stress atau kecemasan maka dia pergi mencari orang lain, menceritakan dan mempercayakan masalahnya kepada orang lain (biasanya teman atau saudara) untuk kemudian mendapatkan ketentraman hatinya kembali.

:::::.....

Metode lainnya menjelaskan strategi manusia dalam rangka coping with stress dengan melakukan suatu mekanisme conscious emotion regulation (pengaturan emosi) yang disebut emotion-focused coping”. Seseorang menghadapi stress dengan fokus kepada bagaimana menata dirinya secara emosional sehingga siap menghadapi stress itu sendiri. Beberapa contoh penerapan teknik emotion-focused coping” antara lain :

o Menerima simpati dan pengertian dari seseorang (teman, saudara atau support group lainnya)

o Mencoba untuk melihat sesuatu dari sisi lain (yang lebih positif)

Ada juga teknik “problem-focused coping” dimana teknik ini lebih fokus kepada penyelesaian masalah-masalah yang menyebabkan kecemasan atau stress. Contohnya :

o Membuat individu yang bersangkutan menerima tanggungjawab untuk menyelesaikan atau mengontrol masalah yang menimbulkan stress. Dengan merubah situasi dari masalah yang bersangkutan, diharapkan efek stressnya juga akan menghilang.

o Menyiapkan semacam rencana untuk menyelesaikan masalah penyebab stress, dan mengambil tindakan untuk melaksanakan rencana tersebut

:::::.....

Tampaknya penanganan stress memang dilakukan dalam dua arah, yaitu dari luar (berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah penyebab stressnya) dan dari dalam (menyesuaikan diri seseorang yang mengalami stress agar supaya lebih siap menghadapi situasi / masalah, baik secara emosional maupun secara kognitif).

Hal ini karena situasi/masalah yang biasanya menyebabkan seseorang berada pada kondisi stress, memang ada 2 jenis. Ada yang situasinya bisa dirubah/dikontrol/dihilangkan sehingga bisa diselesaikan. Tetapi dalam banyak kasus, seringkali situasinya diluar kontrol kita, atau tidak bisa dirubah lagi (misalnya kalau sudah menyangkut takdir), sehingga mau tidak mau, penanganan yang melibatkan diri orang yang mengalami stress akan lebih efektif dilakukan. Tentu saja selain secara pribadi, juga secara sosial, karena itulah dalam banyak kasus, dukungan dan peran sosial orang-orang yang berada disekitarnya (keluarga, teman dll) akan sangat membantu seseorang dalam menghadapi situasi stressnya.