Friday, June 08, 2007

Berkembang Terlalu Cepat

Bertahun-tahun aku belajar tentang tahap-tahap perkembangan anak di bangku kuliah, hampir semua teori terpatahkan oleh Abe.

Paling tidak sampai saat ini. Waktu Abe berusia 6-7 bulan dan aku siap-siap menyambutnya merangkak, dia malah memilih minta berdiri dan merambat. Belum selesai kewalahan dengan ini, umur 10 bulan ternyata dia sudah menjejakkan langkah pertamanya dan berjalan. Itu baru bicara motorik.
Umur 1,5 tahun, Abe sudah berbicara dengan sangat jelas dan banyak. Bukan hanya perbendaharaan kata, waktu itu aku sudah bisa mengajaknya diskusi atau negosiasi kalau misalkan dia meminta sesuatu yang tidak kuturuti. Dengan penjelasan yang masuk diakalnya, aku jarang sekali menemui kesulitan ketika harus melarangnya berbuat sesuatu. Ditambah lagi, aku memang jarang sekali mengatakan kata “jangan” sehingga sekalinya aku memakai kata itu, tahulah dia bahwa aku serius melarang.



Umur 2 tahun, tanpa belajar khusus dia sudah berhitung sampai 20 dan mengenal huruf (both dengan ejaan Indo dan English). Banyak ibu gurunya di sekolah yang keheranan ketika mereka bertanya apa resepnya sehingga Abe cepat sekali bisa membaca dan kujawab : tak ada resep. Aku memang mengajaknya bermain menempelkan huruf-huruf di tangga (sambil naik turun tangga karena memang dia tidak pernah betah duduk diam), tapi sungguh, tak ada program khusus apalagi kursus membaca buat dia. Berpikir untuk melakukannya pun aku tidak. Sudah lama aku merasa mulai menang melawan monster itu. Monster yang banyak menelan korban para orangtua jaman sekarang. Btw, tentang monster apakah yang kumaksud ini, silahkan klik tulisanku disini dan disini , semoga saja kita yang sudah menjadi orangtua benar-benar terhindar darinya.



Suatu hari di umurnya yang baru 4 tahun, dia pernah mengejutkan aku karena sudah bisa membedakan huruf Cina dan huruf kanji Jepang (padahal dia buta kedua jenis huruf itu). Dia suka sekali nonton Ultraman (penuh huruf Jepang) dan Power Ranger (beberapa versi Cina). Dari kesimpulan dan bahasanya sendiri dia cerita kalau “huruf Jepang itu kotak-kotak dan huruf Cina banyak garisnya”. Setengah keheranan, kucoba menunjukkan beberapa huruf Jepang dan Cina dan menyuruhnya untuk membedakan, dan dia berhasil tanpa cela.
Aku sendiri selalu berusaha untuk tidak memberi label apapun padanya. Banyak teman ataupun saudara yang berkomentar mungkin Abe salah satu jenis anak “berbakat”. Kubilang aku tidak percaya karena menurutku semua anak berbakat dengan cara mereka sendiri. Banyak juga yang menyarankan untuk memasukkan Abe ke program khusus anak-anak berbakat, dan kubilang tidak. Yang kuinginkan hanya satu, dia tumbuh apa adanya sebagai anak-anak, yang ceria dan bermain dengan bebasnya. Aku ingin dia tumbuh dengan alami, tidak terlalu cepat matang. Tanpa berbuat apapun saja aku sudah sering dibuat kewalahan karena dia cenderung cepat dewasa dari anak-anak seusianya, tak terbayangkan kalau aku harus mendorongnya untuk melakukan ‘pengayaan’ ini itu.



Anyway...



Menurut Teori Piaget, perkembangan moral anak terjadi dalam 2 tahapan yang jelas (“Perkembangan Anak” Jilid 2 hal.79 by Elizabeth Hurlock).


Tahap pertama disebut “tahap realisme moral” atau “moralitas oleh pembatasan”. Perilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran atau penilaian. Contoh : suatu tindakan dianggap “salah” oleh anak karena mengakibatkan hukuman dari orang lain misalnya orangtua.


Tahap kedua disebut “tahap moralitas otonomi” atau “moralitas oleh kerjasama atau hubungan timbal balik”. Dalam tahap ini anak menilai perilaku atas dasar tujuan yang mendasarinya. Di usia itu, mereka juga akan mulai belajar bahwa di dunia ini bukan hanya ada perilaku benar atau salah, tetapi juga ada banyak hal yang berada diantaranya. Mereka mulai belajar tentang kontradiksi dalam hidup. Anak-anak akan mulai belajar bahwa kadang-kadang seseorang mencuri susu karena memang anaknya kelaparan dan dia tidak punya cara lagi untuk mencari uang. Atau belajar bahwa didunia ini manusia terkadang melakukan “bohong putih”, bohong dengan alasan baik. Dan lain sebagainya, perilaku bukan hanya perkara benar dan salah, tetapi juga tergantung background dari pelaku perbuatan tersebut. Teori Piaget mengatakan tahap ini akan dimulai umur 7-8 tahun dan berlangsung sampai umur 12 tahun.



But I guess, aku sudah harus mulai terbiasa kewalahan karena Abe cenderung mendahului setiap teori Psikologi Perkembangan yang dulu kupelajari. Sekarang Abe 5,5 tahun, dan tempo hari dia sudah tanya-tanya tentang kenapa orang baik bisa berubah menjadi jahat dan sebaliknya. Dia juga bertanya dengan tak habisnya kenapa tokoh Harry di Spiderman 3 bisa sangat membenci Peter Parker, padahal mereka bersahabat baik. Di sisi lain, dia sudah bisa merasa kasihan pada si Harry atau Sandman!! “Kasihan ya buk, biarpun jahat sebenarnya mereka itu tidak mau jadi jahat lho...”



Belum lagi urusan menjawab pertanyaan tentang mati. Kewalahan aku dibuatnya. Yang bikin melas, dia sudah seringkali merasa berbuat dosa (seringkali karena hal-hal sepele khas anak-anak seperti ngusilin adiknya) dan ujung-ujungnya merasa menjadi “anak yang banyak dosa dan tidak berguna” <== ini kata-katanya sendiri lho, ngeri kan?? Aku kan jadi langsung teringat berita anak-anak bunuh diri karena merasa dirinya tak berguna itu??? Naudzubillahi min dzalik Ya Allah...astaghfirullohaladziimm..!!! Untunglah kata ‘bertaubat’ akhirnya bisa kutanamkan padanya dan berkali-kali kuyakinkan bahwa orangtuanya pun juga sering berbuat dosa, seperti semua manusia lainnya di dunia ini tanpa terkecuali. Bahwa semua anak-anak PASTI akan sering berbuat nakal dan dosa, karena mereka belum tahu mana yang benar dan salah.



Jangan ditanya lagi urusan tentang surga dan neraka. Suatu hari dia sempat bilang “Surga kan untuk orang baik dan neraka untuk orang jahat ya buk, trus kalo kaya aku? Anak baik tapi sering berbuat dosa, -tapi anak baik lho buk-, dimana dong tempatnya?” ^_^



Akan pasti sangat tidak bersyukur kalau aku tidak merasa bangga dengannya. Aku sangat bangga. Cuman –namanya manusia pasti selalu ada cuman dan tapi ya he he- kadang-kadang keadaan seperti ini kinda frightening me. Ibukku dulu termasuk orangtua yang sempat kerepotan karena aku harus baligh di usia yang sangat muda (9 tahun) dan sudah cukup banyak cerita dari beliau tentang repotnya menghadapi anak yang cepat sekali matang mendahului anak-anak seusianya...



Ah sudahlah, bagaimanapun, ini karunia dan ujian dari Allah... :-) Semoga aku bisa berbuat yang terbaik dengan amanah-Nya ini...

No comments: