Tuesday, June 26, 2007

Abe vs Konsekuensi

24 Juni 2007.
Alhamdulillah, barusan kemarin selesai bikin album alumni buat TK Al-Hikmah 2007. What a week! Proyeknya mendadak banget, cuma ada waktu seminggu dari nyusun konsep, desain, kumpulin data 75 siswa dan 22 guru (including those hectic photo sessions in classes that i was enjoooyyying sooo much :-D) sampe hari2 editing yg melolo (4 hari full depan komputer mak!!). By the time I finished, I could hear those fuzzy annoying sound inside my head, like there’s an old and disfunctioning fan was stuck inside my brain or something worse.
The thing is, I must love it! ‘Cos even though the timeline wasn't so tight, I always tend to be like that in every project I had....I, AM THE ULTIMATE HOPELESS N CURELESS PROCRASTINATOR EVER! :-D
Suami sering banget komplain tentang kebiasaan menunda-nunda pekerjaanku ini. Everything always goes hectic in the very last minute.



Anyway...


Tidak seperti album alumni biasanya, dari awal konsep aku sudah bertekad untuk mendapatkan testimoni para guru tentang semua murid, satu per satu. Dan subhanalloh, the Principle dan semua Bu Guru disekolah menunjukkan antusiasme yang sama, padahal di akhir tahun ajaran gini biasanya banyak sekali yang beliau2 ini harus kerjakan, dari review buku raport sampai nyiapin anak2 untuk pentas di panggung perpisahan. I have really to give them a very big credit for this.



Kalo ditanya bagian apa yang paling menyenangkan selama pembuatan album ini, definitely THE PHOTO SESSION...!! Semua foto2 anak-anak kuambil di sekolah. Di hari itu, aku yang biasanya ngedrop Abe sekolah di last minute (surprise surprise huh?? Hehe) pagi itu dengan tekad bulat, menjadi yang pertama datang ke sekolah. Jangan ditanya wajah dan sapaan keheranan dari para guru. Tapi setelah tahu tujuanku adalah untuk nongkrong di gerbang sekolah dan njepret semua anak2 kelompok TK B yang datang, Ibu Guru malah ketularan excitementnya. Murid pertama yang datang (setelah Abe yang once in his lifetime pagi itu mendapat kehormatan memakai rompi “Datang Pertama”) adalah Maya, temen Abe sekelas. As soon as she was photographed, Maya malah jadi asistenku, dia yang jadi penata gaya buat teman berikutnya yang datang. Dan teman berikutnya yang ternyata datang adalah Lia (alamak, Lia ini sangat2 camera freak!!). Jadilah, asistenku ada 2, Maya dan Lia. Abe yang sudah dipeseni dari rumah untuk membantu, malah ndak tahu sudah hilang kemana. The amazing thing happens afterward. Setiap anak yang sudah selesai dipotret hampir semua jadi asisten.



Kalo kita harus memotret anak2 TK dengan 1 atau 2 asisten, that would be neat. Tapi kalo memotret dengan 10-15 asisten yang semuanya anak2 juga, thats what I call CHAOS!!! Hehe.



Tiap kali ada yang datang, pasti langsung terkejut karena ke-15 asisten itu akan serta merta meneriakkan namanya “ADEELLL!!! STOOP!!! FOTO DULUUUU!!!”. And the next minute, si Adel ini sudah bergabung juga dengan teman2 yang meneriakinya tadi, ikutan jadi asisten dan meneriaki teman lain yang baru datang. Begitu seterusnya. Aku dan Ibu Guru piket yang menyambut anak2 di gerbang) sampai keringetan semua, bukan karena mengatur anak yang difoto, tetapi karena ribut mengatur para asisten cilik yang bersemangat 45 itu..!! Ohhh.what a day!!! :-D (dan Abe jadi semakin cuek krn dilihatnya sudah banyak teman2 ceweknya yang dengan senang hati menggantikan tugasnya hihihi)




OK.
Gambar kedua ini adalah salah satu halaman buku alumni itu yang memuat Abe. Inilah testimoni yang diberikan Ibu Ina, salah satu guru di kelasnya Abe, tentang Abe :


“Abe vs konsekuensi. Suatu hari Abe dan Iqbal harus menerima konsekuensi yaitu ikut belajar di kelas adik2 TK A (dibawah). Karena mereka tidak mau, mereka pun merayu-rayu Bu Guru berkali-kali. Tapi akhirnya Abe menyadari kesalahannya dan berkata pada Iqbal ‘Sudahlah Bal, kita menurut saja sama Bu Guru... Bu Guru kan orangtua. Kita harus menurut pada orangtua...Sudahlan Bal, ayo kita pindah ke kelas A...”
Di hari lain, sepulang sekolah Abe bikin heboh karena keluar kelas senyum-senyum dengan mulut diplekster lakban hitam! Itu adalah konsekuensi yang dipilihnya sendiri karena waktu berdoa tidak tertib dan bicara sendiri.”



Figure it out!!



Kayanya kalimatnya memang sudah cukup menggambarkan tentang Abe deh (-sigh-). Pernah Bu Ina cerita, selesai pelajaran berenang di sekolah, semua anak sudah keluar dari kolam renang, sedangkan Abe masih saja didalam dan menolak untuk keluar kolam. “Belum puas” katanya waktu itu. Bu Ina pun beri ultimatum, bahwa kalo Abe ndak mau mentas juga, konsekuensinya Abe harus mandi bilas dan pake baju sendiri tanpa bantuan dari Bu Guru. Dengan serta merta waktu itu Abe bilang “Iya kok Bu, nanti Abe mandi sendiri, Gak papa kok” sambil cuek meneruskan kegiatan berenang sendiriannya. Bu Guru pun kembali ke kelas dengan anak2 lain dan meneruskan kegiatan makan di kelas. Selang setengah jam, Abe belum kembali ke kelas juga. Ketika Bu Guru kembali ke kolam renang untuk mencari Abe, apa yang dilihatnya waktu itu sungguh bikin geli. What a mess. Wajah Abe frustasi ditengah kegiatan mandi, pake baju sendiri, dan beres2 peralatan berenang. Dilihatnya wajah Abe hampir meledak dalam tangis karena kesulitan melakukan semuanya sendiri.



Dibanding orang dewasa, anak-anak memang dibekali kemampuan untuk berbuat impulsif. Mereka cenderung melakukan apa yang mereka mau. Itulah kenapa orangtua menciptakan yang namanya konsekuensi. Agar orangtua bisa membantu anak-anak untuk mengontrol perilakunya. Bahwa terkadang, ‘hal-hal sesuka hati’ yang mereka lakukan itu, tak akan bisa lepas dari konsekuensi yang harus mereka tanggung. Anak yang suka memukul, akan dijauhi teman-temannya. Anak yang suka membangkang akan menerima konsekuensi dari orangtua (misalnya berupa ‘time-out’ atau pengurangan fasilitas tertentu). Konsekuensi dimaksudkan agar ketika dewasa, anak-anak belajar tentang tanggungjawab. Bahwa di lingkungan sosial, kita tidak bisa berbuat ‘seenaknya’ tanpa lepas dari konsekuensinya.



Masih kata Bu Ina, salah satu yang khas dari Abe adalah bahwa dia cenderung menyerahkan diri kepada konsekuensi demi dorongan impulsifnya. Aku nggak bisa berkata lain kecuali menyetujui, karena dirumahpun, dia selalu begini. Gak papa deh resiko nanti batuk, yang penting sekarang aku sangat pengen makan ‘Marbels’. Gak papa deh mandi dan beres2 sendiri nanti, yang penting sekarang aku mau puas berenang dulu. Biasanya sih, pada akhirnya dia selalu kerepotan dalam menghadapi konsekuensinya. Yang buat kami (aku dan suami) bersyukur, Abe sudah terlatih untuk tetap menjalani konsekuensi itu. Konsekuensi yang suah dia ketahui harus diterima bahkan sebelum dia melakukan suatu perbuatan yang beresiko. Walaupun dengan ngomel2, walaupun dengan keluh kesah setengah menghiba. Kami seringkali merasa geli, kadang-kadang hampir-hampir tergoda untuk jatuh kasihan melihat bagaimana dia melalui konsekuensi ini.




Nah...


Now, can you tell the storyline here?? Coba deh dihubungkan dengan topik ‘procrastination’ di awal tulisan tadi. Ada satu kalimat yang seringkali terceplos dari mulut suamiku tiap kali Abe menyerah pada impulsifnya (dan memilih menelan bulat-bulat konsekuensinya) : “embuh nurun sopoooo iku...” (gak tau deh, siapa yang dicontohnya...) sambil melirikku dengan wajah "can’t do anything about it" alias pasrah...



Jawaban self-defence ku selalu begini : “lhooo katanya mau anaknya jadi pengusaha, salah satu qualification nya katanya kan harus berani ambil resiko. People who take risk, they have to wellknown about the consequences too..” (ngeles.com deh hi hi hi)



Ha ha ha...somehow memang benar ya...buah tak bakal jatuh jauh dari pohonnya...

No comments: