I realize that we are living in a very cruel world. Tragedy is everywhere. But now take a look at this picture and tell me that your heart won't be melted...This picture is courtesy of Jawapos, printed as a headline in this morning edition (printed in a laaarge size), shocked me in my lazy mood earlier this morning. God...they even have to put that black-square-mark in the point where the bullet hit. Beritanya bisa di klik di sini tentang penembakan yang dilakukan para marinir kearah para warga yang melakukan aksi unjuk rasa di Pasuruan.Rightaway, even until now, I can't stop to thinking what happen next to that child (btw his name is Khoirul Agung). The pain he has to get thru, the pain that his parent have to get thru, is he already dead by now? Or he will survive with severe injury in his internal organ that he has to carry thru his live?My God.... T_T
Aku sama sekali bukan TV freak (apalagi sinetron, aduh ndak banget). Tapi akhir2 ini sempat kuliat di Indosiar gencar diiklankan acara baru bertajuk MamaMia . Pertama-tama kali liat iklannya I was like “what the heck?” another adaptation show again? Kabarnya ini show adalah hasil adaptasi (versi Indonesia) dari acara dengan judul yang sama di negara Brazil sana. Kalo pingin tahu kunjungi aja websitenya tapi it comes in spanish he he.Show nya tentang kontes menyanyi (or popularity contest??) yang diikuti para abg cewe (+ibunya sebagai sang manajer). Audisi dilakukan di beberapa kota besar, lalu 75 pasangan anak-ibu yang terpilihpun terbang ke Jakarta untuk mengikuti kontes on air nya di Indosiar. Slogan yang dipake untuk acaranya “cuma buat perempuan” ha ha...but to me, (i hope) it’s not for ALL woman exactly... at least not for myself... :DTetek bengek rating, I don’t care. Kalopun nantinya aku nonton acara ini, I’m 100% sure because it’s just out of my curiousity. Thats all. Tapi, hanya dari melihat iklannya sekarang aja, ada beberapa hal yang really2 come to my concern already...(saat ini acaranya belum airing lho...tapi prihatinku sudah muncul membabi buta)Pertama, basicly aku selalu prihatin melihat bagaimana kata “popularitas” hits people like hell !! What is up with that? Media2, buku2, diskusi, dll. rasanya perlu sekali lebih banyak mengulas bahwa masyarakat kita sekarang ini terlalu melebih2kan popularitas. Sebutan “artis dan selebritis” sangat dipuja, tanpa disadari bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, tanpa terkecuali, selalu datang dengan 2 sisi : plus-minus, keuntungan-kerugian, kebaikan-keburukan, enaknya-susahnya. Itu pasti !. Masyarakat sekarang kayanya perlu banget lebih aware bahwa dibalik gemerlap menjadi “terkenal” dan “bintang” banyak sekali konsekuensi yang harus siap dihadapi dan seringkali sangat tidak mengenakkan (kalo mau ditulis apa saja itu, bisa2 sekarung sendiri postingan blognya).Kedua, masih menyangkut poin pertama. Dalam hal ini di acara MamaMia ini kan pesertanya adalah kalangan remaja putri. Menghadapi konsekuensi menjadi “terkenal” buat orang dewasa saja sudah terbukti susah (banyak kita lihat para artis korban popularitas yang hidupnya jadi kacau kan??), apalagi ini harus dihadapi para remaja. Teenagers who are struggling like hell to be human, to find their own identity and their reason to live. Struggling just being what they are, being themselves and turned out to be happy with it. And now they have to be consumed by a monster named “popularity contest”?? Oh come on, like their teenage world isn’t too hard to bear already or what??Ketiga, the mommies. Coba sekali lagi simak beberapa komentar para peserta audisi MamaMia ini. Ada salah satu peserta bernama Martha, ini kisahnya :“Kekompakan mama dan putrinya ini terlihat dari Martha dan mamanya, Lasma,.........bahkan menurut Martha, sang mamalah yang memaksa dirinya untuk ikut audisi Mama Mia.”Well, just grab your sense, I wouldn’t need to write no more bout it... –sigh-... It’s hard enough to be a mother (and father) who wouldn’t push anything we want (or dream of) to our kids, in fact, it’s almost impossible to do that. Sure, we told the kids to do this and that all the time, to behave in front of other, etc. but I truly hope that I won’t ever (ever!) tell my kids to do anything so they can be in a popularity contest and eager to be a celebrity. Never!Jujur, aku sudah cukup prihatin melihat pasangan anak-ibu yang dengan sama centilnya menyatakan antusias mereka untuk meraih “bintang” dan menjadi penyanyi terkenal (dan ibu dari penyanyi terkenal. Lebih prihatin lagi deh melihat para “stage-mom” yang justru lebih antusias dari si anaknya sendiri, malah “memaksa” anaknya untuk menjadi populer ini...Hhhhh.......
Rabu kemarin, setelah 9 bulan yang berat karena placenta-previa dan bedrest (percayalah, bagi mall freak macam dia, bedrest memang bener2 siksaan), akhirnya Mba Olive melahirkan. Sesuai yang diduga dan dulu sempat ditakutkan, via operasi caesar. Lahirlah Rayya Khalila Yudhistira, berat 3,2 kg panjang 50 cm. What a beautiful baby!! Kata Mba Olive, dia mirip banget Pasya waktu lahir dulu.
Satu lagi kehidupan tumbuh mulai menancapkan sejarahnya di bumi ini. Mencerap hangatnya matahari pagi, bersiap dengan teriknya matahari siang hari, n hopefully in the end of her day, she’ll embrace the warmth n beauty of the moon n living in a light of her own star...
Life is coming n going all the time...
This week, I see a life goes too, pergi meninggalkan dunia ini. Siang2 dapet berita duka. Pretty shocking, one of my highschool-mate had just passed away.
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun...
Salman Nurdin. Aku sudah kenal Salman sejak SMP (itu berarti sejak 18 tahun yang lalu!! Subhanalloh..) dan kita sering dipertemukan di kegiatan2 OSIS. Sebagai salah satu putra dari (alm) Bpk. Rofiq Singodimejo, tentu dia sudah punya tiket untuk menarik perhatian para kakak kelas aktivis kerohanian Islam di sekolah. In almost no time, Salman sudah aktif memimpin kegiatan2 Rohis di SMP kita dulu, dan berlanjut ketika kita di SMA. Back in Tulungagung, komunitas muslim pasti kenal siapa Pak Rofiq. Dia salah satu tokoh Islam yang waktu itu aktif dimana-mana, ceramah, pengajian, kajian Islam dll. Seingatku dulu aku selalu bilang ke Salman betapa dalam banyak hal, gayanya sangat mirip Pak Rofiq. In fact, dari semua saudara2nya, kulihat Salman lah tempat dimana Pak Rofiq banyak menitiskan karakternya. Kalo bicara selalu penuh semangat, yet, sarat dengan kebijakan. Penuh keyakinan dan percaya diri, yet, penuh tenggang rasa dan kerendahan hati. Kadang2 agak keras kepala, tapi di lain waktu dia dengan lembut mengatakan "aku bilang apa..bener kan?" :D
Biar seorang Ketua Rohis di SMA, dia itu tipe orang yang akan bisa bergaul dengan siapa saja, bahkan dengan temen yang ada di black list para guru sekalipun. Dari teman yang tertib di sekolah sampai yang bandel, dari yang semangat diskusi sampai dengan yang sinis pada semua pendapatnya, dari yang rajin mencarinya untuk sama2 berproses mencari “pencerahan” sampai yang harus “dikejar2” Salman untuk sekedar memberi undangan kegiatan pengajian, semua diladeni Salman. Istilahnya, kalo dalam dunia dakwah, dia itu bisa masuk ke semua komunitas masyarakat.
Bagi aku pribadi, kita punya bentuk hubungan yang agak unik. Karena kebetulan orangtua kita berdua saling kenal dan berteman, diluar kegiatan sekolah kita jadi sering berinteraksi. Dalam banyak hal, Salman bisa membimbing sekaligus tempat curhat. Kebanyakan curhatku tentang tetek bengek kegiatan di OSIS dan posisiku (waktu itu Sekretaris OSIS) yang dilematis, berada ditengah2 blunder antara pimpinan (Ketua OSIS) dan teman2 yang berada dibawahnya (para pengurus dan temen2 siswa lain).
Baginya, aku mungkin bisa dibilang teman yang ngeyelan, susah dibilangi dan diajak berpikir. Buktinya dia sering banget ngurak2 aku untuk berpikir. Salman termasuk orang yang berpendapat bahwa berpikir tidak bisa dilakukan kalo kita sedang bicara...dan aku adalah orang yang buuanyaakk sekali bicara! Hehe...
Salman juga pernah memprotes keputusanku untuk selalu berada di “zona aman” dalam suatu kontroversi. Kontroversi memang tidak pernah kubiarkan menggangguku karena menurutku itu hal yang alamiah dan manusiawi. Kalo diurusi terlalu berlebihan malah akan bikin rame. Dan aku paling males kalau harus rame (baca: berdebat) dengan orang lain. Tapi somehow, kadang-kadang aku merasa sekali dua kali, dia perlu mencariku ke kelas justru untuk ini, untuk mendengar dari mulutku bagaimana sebuah kontroversi menjadi suatu hal yang tidak perlu diperdulikan. Menjadi hal yang kadang2 perlu dibiarkan apa adanya. Mungkin itu adalah waktu2 dimana dia perlu time-out, perlu istirahat dari dunianya yang penuh dengan proses perdebatan dan diskusi dengan orang lain (orang lain = bukan hanya teman, tapi juga bpk/ibu guru, pegawai sekolah, dll)
Dia juga sering bilang aku itu orang yang sangat naif. Dia pernah bilang tak tahan dengan teori optimistis yang kuanut (“kuanut?” Ha ha itu actually kata2nya..go figure!...‘filsafat bgt’...). Katanya aku terlalu optimis tentang apa saja, saking optimisnya sampai jadi naif, n he said he couldn’t stand that.
And ini semua terjadi waktu kita SMA lho!! Masa2 abg pencarian jati diri kita masing-masing. Tapi Salman, he’s way too much deeper that his biological age that time.
Tapi namanya teenager, tentu ada masa2 dudul khas remaja...
“Heh, ada temenku yang naksir kamu tuh kayaknya, Man,” suatu kali kubilang padanya dengan usil.
Si Ketua Rohis yang ini tidak akan tersipu malu mendengarnya, dia malah membalas “Temenku ada juga yang naksir kamu tuh, trus piye? Didadekno ae kabeh opo piye?”
Sure, dia tahu pasti tentang prinsipku untuk tidak berpacaran sebelum lulus SMA. Dan jawabannya itu sudah cukup untuk membuatku terdiam...
Masa kuliahnya di Hubungan Internasional FISIP Unair, tak banyak kutahu. Itu adalah masa dimana kami sempat lost contact. Aku masih ingat dia mengacungkan 2 jempolnya untuk mengomentari keputusanku menikah muda di semester kedua kuliahku (sementara banyak teman lain konon menggosipkanku hamil sebelum nikah ha ha ha). Itu pertemuan pertamaku dengannya setelah menikah. Pertemuan tidak disengaja di parkiran Psikologi depan Perpus Besar Unair. Sangat membesarkan hati. Sehabis itu, lamaaaaa lagi tidak ketemu Salman. Lost contact lagi...
Bagi yang sudah lama mengenal Salman dan mengikuti kabar2 tentang dia, pasti sudah tahu, masa2 tahun2 kuliah selanjutnya, was history...
Cerita tentang bagaimana Salman mengalami transformasi yang membuat semua orang, bahkan keluarganya tercengang. Bahkan mengelus dada. Cerita tentang bagaimana semua orang mengkambinghitamkan ilmu filsafat yang sedang dipelajari Salman sebagai penyebabnya. Aku tidak akan menulis apa-apa disini, karena aku tidak mengetahui dengan pasti. Bagiku semua hanya sebatas kabar yang kudengar tentang dia. Dan selama waktu itu, aku memang tidak mendapatkan kesempatan bertemu dengannya atau menanyakan apa yang sedang terjadi.
Tapi deep down in my heart...aku tidak sempat merasa heran apalagi tercengang...aku tahu Salman, hal seperti ini sangat tidak mengherankan terjadi padanya. Dia sedang dalam proses pencarian sesuatu...entah apa itu, but I believe it was something big...dan kontroversi tentang dirinya ini, sekali lagi, tak kubiarkan menggangguku...
Lost contact itu begitu lama...hanya kabar burung jugalah yang sampai padaku, rumor tentang meninggalnya Pak Rofiq yang dikaitkan dengan ketercengangan dan pencarian Salman tadi. Aku tak berhak menulis apapun tentang itu...
Sampai kudengar kabar duka itu....sms seorang teman SMA yang mengguncangku siang itu. Salman pergi untuk selama-lamanya, Rabu 23 Mei 2007. Untuk beberapa jenak aku tersedot ke ruang hampa. Salman...
Kubayangkan, pasti tak terhitung banyak kali kau pernah diskusi atau bicara tentang ini pada orang lain, betapa semua yang bernyawa pasti akan mati, betapa hanya Allah SWT yang memegang rahasia tentang umur manusia, betapa kita tidak akan pernah tahu kapan dan berapa lama waktu kita...
Ini waktu untukmu kawan...rahasiaNya untukmu sudah terkuak untuk kita yang kautinggalkan...
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afini wa'fu'anhu...
Maafkan aku yang karena jarak dan waktu tak bisa mengantarkanmu ke peristirahatanmu yang terakhir. Yang kuterima hari ini hanya sepenggal cerita dari ibukku yg melayat. Sepenggal cerita yang (seharusnya tidak perlu) meninggalkan sesal...tapi apalah diriku...hati yang lemah dan gampang dihinggapi sesal ini...
Ternyata sudah lebih setahun ini Salman divonis kanker paru2. Tahun lalu sempat operasi pengangkatan sel kanker. Tapi rupanya karena sudah parah menyebar, operasi pun masih menyisakan sel2 yang kemudian tumbuh kembali menggerus paru2nya. Yang menyisakan sesal dihatiku, aku sama sekali tidak tahu kalo selama ini Salman actually tinggal di Surabaya!! Ketika terakhir kudengar dia menikah, aku berasumsi dia tinggal di Tulungagung karena semua cerita kalau Salman harus membantu Ibunya mengurusi usaha keluarga sepeninggal Pak Rofiq.
Sebelum meninggal, Salman malah sempat dirawat selama 52 hari di RKZ!! Tanpa kudapat kesempatan untuk membezuknya, karena ketidaktahuanku (benarlah pepatah “ignorance makes u blind”). Kata ibukku, isterinya bercerita bahwa disaat2 terakhirnya, Salman hanya mau mendengarkan lagu2 Ebiet G. Ade...ah teman, ketika kau merasa sudah diujung umurpun, rupanya kau tidak berhenti berproses. Dengan lirik2 lagu Ebiet yang dalam akan makna dan balada itu...
Salman menikah dengan seorang wanita asal Tulungagung juga (happens to be my lil bro’s friend) dan tinggal di sekitar BNI Graha Pangeran yang actually dekat dengan rumahku!! Inikah salah satu rahasiaMu juga Ya Allah? Tak sempat kau pertemukan aku dengan temanku ini sebelum dia menghadapMu..?
Salman meninggalkan 3 orang anak2 yang masih balita. Anak sulung 3,5 tahun dan sepasang kembar yang masih berumur 2 tahun...masyaalloh, mereka anak2 yatim sekarang... Aku seorang ibu yang tidak mungkin tidak teriris melihat ini...
Salman...
Manusia diukur berdasarkan manfaat yang diberikannya kepada orang lain. There my friend, u have me, pertemanan kita bagiku sarat akan manfaat dan pelajaran. Terima kasih...
Selamat jalan kawan...selamat berproses di duniamu yang baru...~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
tempat terakhir (alm) Salman beraktivitas :http://www.pusdakota.org/htmlInd/inspire.htmobituari lain untuk Salman Nurdin :http://ynugroho.multiply.com/journal/item/15http://didut.nomadlife.org/2007/05/selamat-jalan-sahabat.aspx