Friday, July 27, 2007

[This Is Good] Kisah Luqman Al-Hakim

Dalam sebuah riwayat diceritakan, pada suatu hari Luqman Al-Hakim masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor khimar, sedangkan anaknya mengikuti dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, sebagian orang di pasar pun berkata, “Lihatlah orangtua itu yang tidak bertimbang rasa menaiki khimar, sedangkan anaknya dibiarkannya berjalan kaki.”

Setelah mendengar desas-desus dari khalayak ramai, maka Luqman pun turun dari khimarnya, kemudian dinaikkannya anaknya diatas khimar itu. Melihat yang demikian, maka sebagian orang pasar itu berkata pula, “Lihatlah itu, orangtuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak-enak menunggang khimar itu, sungguh kurang beradab anak itu!”

Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik keatas khimar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang-orang di pasar pun berkata lagi, “Lihat dua orang itu, menunggangi seekor khimar, sungguh kasihan khimar itu.”

Oleh karena tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari khimar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, “Dua orang berjalan kaki, sedangkan khimarnya tidak ditunggangi, betapa mubazirnya.”

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Luqman Al-Hakim menasihati anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka. Katanya, “Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah SWT saja. Barangsiapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangan dalam segala hal.”

(Dari Buletin Al-Ummah)

memang kalo mau nurutin apa kata orang, capee deehhhhh :-D

Wednesday, July 18, 2007

Bea's First Day at School

Selasa, 17 Juli 2007.
Giliran hari pertama Bea sekolah, at PlayGroup Daarul Ilmi...which means, that day is her first day at school ever!! :D

Jangan ditanya lagi acara mewek2annya. Sudah sejak Sabtu (atau malah sebelumnya) sebenarnya hatiku sudah diliputi haru biru. Ditengah-tengah mempersiapkan semua keperluan anak-anak masuk sekolah, seakan-akan di benak dan otakku bolak balik diputar kembali rekaman film, dari hari pertama aku mengetahui kehamilan Abe (setelah hampir 5 tahun kehamilan itu kami tunggu2), hari2 kelahiran anak-anak, hari pertama mereka melangkahkan kaki berjalan, wajah serius Abe ketika meninggalkan aku yang masuk RS untuk melahirkan Bea, suaranya yang semangat memamerkan kelahiran adiknya ketika aku belum sepenuhnya sadar dari bius operasi cesar, semua seakan melintas lagi dikepalaku.

Ketika aku menyampul satu persatu buku2 Abe, terlintas semua celotehannya di masa lalu. Ketika aku jahitkan badge di seragamnya, kuingat juga saat-saat berat ketika aku hampir-hampir kehilangan kesabaran ketika menghadapi kerewelannya (oh, Thank God it doesn’t happen much...semua karena karuniaMu juga Ya Alloh..), ketika kulekatkan sticker2 label nama yang kubuatkan sendiri di kotak crayon Abe, terlintas betapa seriusnya ketika Abe kuajak diskusi tentang dimana sebaiknya Bea masuk PlayGroup...

Waktu melayang cepat dalam hidup ya...
Waktu kukecilkan lubang kerudung Bea yang kebesaran, tanpa terasa airmataku menetes, betapa cepat masa berlalu, kamu kok ya sudah sekolah juga to nak... ^_^

Memang dudul ya melihat anak-anak mulai berangkat sekolah...hikss...
Saat semuanya siap, aku masih tak bisa tidur dengan nyenyak...Hari pertama Abe di SD yang berjalan lancar tak jua membuatku terlelap karena menantikan besok ketika Bea untuk pertama kalinya bersekolah...

Alhasil, karena baru bisa tidur kira2 jam 2 pagi..sehabis sholat Subuh dalam hati aku berjanji akan sebentar saja memejamkan mata dan siap bangun jam 5 atau 5.30. Bapak juga gitu, karena sebelumnya pulang dini hari dari acara pengajian, malah narik2 ibuk dipelukan untuk tidur lagi...Ah, sebentar aja, janjiku lagi... Sungguh janji yang sia-sia, karena next time I know, Abe udah goyang2 badanku “Ibuk, kita kesiangan, sekarang sudah jam 6 lho!!”

Jrenggg...(ini waktunya musik latar berubah drastis, dari sebelumnya yang mendayu2 penuh gesekan biola yang melodramatis, jadi gebrakan grand piano yang bertempo cepat dan riuh)

Alamakkk..mana Bea juga masih tidur?!!? “Beaaaa bangun sayanng, katanya mau sekolah...ayo bangun sayang.....Abe...!!!! sudah belum mandinya??...Jangan lupa gosok giginya, trus langsung pake baju yaa, pake tenaga power ranger ya, secepat yang Abe bisa, kita udah kesiangan nih...Beaaaaa... uhhhh... bangun naaakkk, aduh beratnya anak ibuukk...ayo buka matanya coba...tuh mas Abe udah mandi, Bea kan hari ini masuk sekolah...”
Dan Bea pun masih memilih merem di bahu Ibuk....alamakkk bangun sayang..!!!

Singkat cerita, dengan bantuan Bapak dan mbak, jam 6.30 udah berhasil masuk mobil hueheheh alhamdulillahh... “Hati-hati nyetirnya nduk, ambil napas dulu....” kata Bapak sambil nyalamin anak2.
Ha ha ha

Di PG Daarul Ilmi, ada 2 kelompok, kelompok As-Salam yang masuk hari Senin-Rabu-Jumat dan kelompok As-Syamik yang masuk Selasa-Kamis-Jumat. Bea masuk As-Syamik, jadi hari pertamanya adalah Selasa. Aku sedikit lega karena itu berarti aku bisa mendampingi Abe di SD pada Seninnya.
Karena sebelumnya harus antar mas Abe nya di SD, Bea akhirnya datang pertama di sekolah. Wah, seluruh taman bermain serasa miliknya...Sempat masuk kelas, gayanya mau coba-coba duduk manis...trus minta main lagi diluar...

Setelah bel masuk, mendadak Bea kok punya hobi baru..?
“Ayo anak-anak As-Syamik berbaris dulu... Lala...Yara...Bea...” ajak Bu Guru dengan ramah
“Emoh!” jawab Bea sambil lari lagi ke ayunan
“Ayo Bea berbaris dulu sayang, nanti main lagi, sekarang waktunya masuk kelas” ajak Ibuk
“Ndak mau!” sambil geleng2.

(30 menit kemudian)
“Kita nyanyi sambil tepuk tangan ya..ayuukkk”
Bela lari ke ujung ruangan, ke meja guru sementara teman2nya duduk melingkar dengan Bu Guru di pojok yang lain.
“Wah ada beberapa teman yang ternyata masih belum kesini...Ayo kita panggil mereka yuuk”
Satu persatu yang masih pada ngambek, nempel ibuknya, gak mau sekolah dipanggil namanya...Bea tetap asik nyanyi sendiri di belakang meja guru.
“Kalau kau suka hati panggil Bea....BEA!!” seru Bu Guru.
“Emoh!” kata Bea sambil merem dan geleng2 kepala.

(15 menit kemudian)
“Ayo berbaris lagi yuuk...PlayGroup Syamiik..!! kita bikin kereta api, jalan-jalan keluar yuukkk”
“Bea, ikut jadi kereta api yuuk, kita main diluar lagi” ajak Ibuk yang sudah mulai mengendur usaha urak2 Bea nya.
“Emoh!!”
“Lho, tadi kan Bea ajak main ke luar kelas kan? Ini teman2 mau pergi keluar kelas, berbaris –naik kereta api..tut tut tut..” Ibuk belum menyerah.
“Emoh!! Bea mau didalam aja!”
Alamak...waktu Bu Guru di kelas, Bea selalu berusaha keluar untuk main di halaman, giliran Bu Guru mau ajak keluar kok Bea malah mau didalam...?

Hobi baru itu berlangsung sampe pulang sekolah lho... Ha ha ha
Jadi inget, dulu minggu pertama di PlayGroup, Abe bikin ketawa semua karena ketika Ibu Gurunya mengajak pergi ke salah satu pojok kelas untuk menyanyi, Abe malah ajak2 temennya ke pojok lain di seberangnya...”Aku punya ide, kita nyanyinya disini saja teman2..!!!!” sampe beberapa teman dengan bingung jalan bolak-balik ‘ikut yang mana yaaa?” :D

Sorenya ketika semua sudah santai berkumpul di rumah, setelah mendengar cerita lengkap tentang Bea, dia komentar gini :
“Siapkan mentalmu aja dari sekarang, kalo-kalo nanti waktu kelas 1 SD, Bea juga harus berada di kelas yang sama dengan Abe”
:D

Abe's First Day at SD

Senin, 16 Juli 2007. Hari Pertama Abe di SD.
Aduh ndak kerasa ya Be...kamu kok ya sudah gede ya nak..hiks..

Hari pertama sekolah selalu hectic. Malamnya, seperti biasa kalo lagi heading a big day, Ibuk gak bisa tidur Be...berkali-kali ngecek perlengkapan sekolahmu. Duh...rasanya baru kemarin Ibuk sampe diare karena ikut tegang waktu kamu hari pertama masuk playgroup (selengkapnya bisa dibaca
disini) lha kok sekarang kamu sudah SD to nak nak...
Biarpun tidak seheboh dan setegang waktu Playgroup dulu, tapi keharuan yang kurasakan masih tetap sama. Malam sebelumnya, sehabis menjahitkan badge di baju seragammu Be, Ibuk termangu... MasyaAlloh.. what a bless we are having all these time. In almost no time, you have grown up, sometimes it feels almost too fast for me, my dear...Above all, I think we’ve done pretty okay so far, and you grow up so nicely.. Alhamdulillah Ya Allah...semoga kamu tumbuh jadi anak sholeh sayang...
(Oke now ibuk, enough acara meweknya hiks...hi hi)

Sabtu sebelumnya, waktu pengumuman pembagian kelas, baru tahu kalo ternyata Abe masuk kelas khusus. Hemm..dibilang khusus sebenarnya aku kok kurang sreg ya, karena berarti kan ini sama aja dengan memberi label ke anak, dan aku sangat menghindari itu. Cuma memang, bersama teman2 walimurid lain, kita sempat geli-geli gimana gitu, begitu kami berkerumun untuk melihat papan pengumuman yang memuat daftar nama-nama murid baru di kelas 1 itu.
Di
SD Al-Hikmah siswa kelas 1 nya ada 6 kelas (I-A sampai I-F). Agak lama sebelumnya aku sudah dapat bocoran (dari iparku yang juga jadi guru mengajar di situ), kalo Abe masuk kelas I-A. Waktu itu Tante Ulfa (iparku itu) sms : “seperti yang kuperkirakan, Abe masuk kelas I-A, dan pastinya kelas yang...(titik titik) :D”



Waktu di sms itu aku belum sepenuhnya paham maksudnya (selain memang sebelumnya aku sempat dipanggil BK TK nya, menyangkut Abe yang hasil test IQ disekolahnya tinggi –superior- tapi kemandirian dan kematangan emosinya masih dinilai ‘belum siap masuk SD’ hi hi)
Ketika melihat sendiri jejeran daftar kelas di papan pengumuman Sabtu itulah aku jelas apa maksudnya. Dibawah daftar masing-masing kelas lain, hanya dicantumkan keterangan jumlah siswa L (Laki-Laki) dan P (Perempuan). Sedangkan kelas I-A, kelasnya Abe, ada tambahan catatan.

Just in case you can’t read it clearly, it says :
“Karakter siswa dalam kelas ini : Penerimaan otoritas kurang (tidak mengindahkan perintah orang lain); Kemampuan kognitif diatas rata-rata (superior); Kemampuan motorik halus sangat kurang; Ada 1 anak yang kemampuan komunikasinya kurang (tidak berbicara); Sebagian besar banyak bergerak dan memukul teman lain; Konsentrasi dibawah 7 menit (standar).”


:D


Syukurlah Abe bukan anak yang tidak berbicara (sebaliknya dia malah anak yang tidak bisa berhenti bicara)...
Syukur juga dia bukan anak yang suka memukul teman yang lain...
Tapi yang lain itu...much less, memang Abe... :D (susah diperintah, kegiatan motorik halus selalu membuatnya bosan -daripada mewarnai, meronce, menjahit, dlsb, dia akan lebih memilih kegiatan2 motorik kasar macam melompat, berguling (roll), lempar2 dll-, dan kemampuan konsentrasinya memang sangat pendek)


Komentar temen2 walimurid macam-macam:
“Wah kayaknya kelas preman nih, cewenya cuma 8, cowonya 20...”
“Untung anakku di I-D”...... :-S
“Eh, Wahid! yo pantes anakmu masuk kelas ini, wong ibuke yo pencilakan”.....
“Ha ha aku udah ngira kalo anak kita sekelas Wahida!!”...yang ini komentar Mbak Olive, salah satu temen dari TK yang Pasya, anaknya memang sama2 superaktifnya kaya Abe. Dia meneruskan, “Jujur kalo aku malah seneng kaya gini, jadi Pasya dapet gurunya juga yang cocok, sama-sama aktifnya. Soalnya pengalaman dulu-dulu kasian juga liat guru2 menghadapi si Pasya.”
Well, she got the point...


Komentar suami sih seperti biasa. “Wah ini sih kelasnya calon entrepeneur! InsyaAlloh!” Alamak...dalam banyak dosis, dia memang agak2 korban Purdi Chandra he he.


Hari pertama sekolah terbukti. Begitu pulang, jelaslah sudah betapa Abe punya idola baru yang dalam sehari sudah membuatnya terpesona dan tertarik (tertarik, itu penting, karena Abe sangat sulit tertarik sama orang lain dan cenderung cuek).


Panggilannya di sekolah Ustadz Bambang. Wali kelasnya Abe ini adalah satu-satunya wali kelas laki-laki di seluruh kelas 1. Waktu bertemu pertama kali dengan beliau, aku saja sudah ‘terpesona’. Kelihatan banget orangnya sabar tapi tegas, lucu tapi pinter dan jelas-jelas punya wibawa yang bagus. Tipe orang yang ketika dia mulai berbicara, bahkan anak se cuek dan se cerewet Abe dan Pasya pun akan bisa langsung diam memperhatikan dengan ingin tahu, apa yang akan dikatakan Ustadz.


Alhamdulillah...sepulang sekolah di hari pertama pun Abe sudah sarat cerita tentang Ustadz Bambang, dan semua dengan intonasi dan semangat yang positif. Di tengah jalan, diapun menyorongkan pipinya nagih hadiah ciuman dari aku yang sedang nyetir, sambil bilang, “Tadi waktu Ustadz Bambang bercerita, Abe sama sekali tidak berbicara lho...Abe mendengarkan thok, sampe ceritanya berakhir lho Buukk...”
“Iya iya...anak Ibuk pinter deh, makin pandai memperhatikan guru...”
Cup cup cup...He he

Subhanalloh...alhamdulillah...karuniaMu Ya Allah...


Thursday, July 12, 2007

Liburan Kuliner di Kampung


Gara-gara modem dirumah Kakung dudul, jadi gak bisa online deh…ini ngeblog aja musti ke warnet loh…hi hi hi. Tapi hebat, warnet di Tulungagung udah pada bagus dan rame nih…

Berikut ini journal selama beberapa hari liburan di kampung di Tulungagung…(full acara makan pokoknya)


Hari Minggu, 8 Juli 2007, pagi jam 8 kita meluncur ke Tulungagung. Perjalanan terasa sedikit lebih panjang dari biasanya karena tidak ada Bapak yang suka godain anak2 (dan godain Ibuk juga hihihi) dan melucu di sepanjang perjalanan. Pagi tadinya si Bapak plus Om Jess dan Om Kus memang berangkat ke Bogor dengan mobil Om Kus. Kangen ya…sebenarnya tadi malam (Selasa malam) Bapak udah ada di Surabaya, tapi baru nanti sore nyusul ke Tulungagung.

Sesampainya di Tulungagung tengah hari, Ibuk yang kelaparan (karena tadi pagi nggak sempat sarapan sendiri) langsung disambut “Sego Bantingan” ala Tulungagung he he aduh nikmatnya…Setelah hampir setahun booming, rupanya Sego Bantingan masih ngetrend juga rupanya (dan nikmatnya tak sedikitpun berkurang).

Fyi, sego Bantingan ini kalo di Surabaya disebut “Sego Sadhukan”, di daerah lain pun punya nama khas sendiri-sendiri, dari “Sego Kucing” (di Jogja) sampai “Nasi Lempar”. Ha ha ha aku pertamanya geli banget liat namanya yang konyol dan beberapa berbau vandalisme gitu.

Itu istilah2 lain dari Nasi Bungkus yang sebenarnya (maksudnya nasinya sekepal -makanya disebut nasi kucing, maksudnya seporsinya kucing he he-, trus lauknya juga sekedar telur separo atau ayam sepotong keciillll, plus sekelumit mie goreng, sambel goreng sekedarnya, pokoknya semua ala kadarnya). Harganya juga dibanting alias murah meriah (di Tulungagung cuma Rp. 1500 tapi dijamin nikmatnya masyaAlloh…) mungkin ini kenapa dikasih nama sego bantingan ya ha ha ha

Secara resmi, dimulailah liburan yang penuh petualangan kuliner ala kampung halaman tercinta ha ha ha. Sorenya, karena pas banyak sodara yang (katanya Emi) punya gawe, jadinya sampai malam menu kita adalah nasi2 hantaran yang khas old fashioned ala kampung gitu!! Aduh mak nyuss… Sambal goreng kentang+ubi yang kering dan pedas, mie goreng bumbu bawang dengan potongan kubis yang lebar2 dan taburan bawang goreng, sayur ‘lotho’ (kacang merah khas daerah sini) yang coklat pekat dan pedas, daging lapis berselimut serundeng (kelapa yang disangrai dengan bumbu) plus (ini yang paling mak nyuss) tahu goreng yang dimasak santan dan pedaaasss (alamak bener2 siap2 tambah cempluk deh sepulang liburan ini hueheuheuh).

Menu untuk anak-anak, sorenya Mbak Upik beliin sate ayam ponorogo Ibu At (depan perumahan bea cukai kedungwaru) favorit anak-anak… Malam itu Ibuk dan anak-anaknya berangkat tidur dengan perut cempluk semua he he… Alhamdulillah…


Senin, 9 Juli 2007

Hal yang paling menyenangkan anak-anak ketika berlibur di Tulungagung, tentu saja adalah berkumpul dengan keluarga. Kakung-Uti, Asnan (Uwa)-Mbak Emi dan Sena-Aaliyah. Apalagi ini sedang menghitung hari, sebentar lagi si Aaliyah punya adik. Asnan-Emi yang 12 Juli tahun ini genap 5 tahun menikah, sudah ‘menghasilkan’ 3 anak lho (wah produktif ya he he). Btw, cerita selengkapnya tentang Asnan-Emi bisa dibaca disini.

Eh, ada lagi yang spesial lho. Entah disengaja atau tidak, setiap kita yang dari Surabaya dateng rame-rame gini, Bu Kipir (tukang masaknya Uti) selaluuuu menyajikan menu2 yang jadi favorit kita (eh, kalo dipikir2 lagi, mungkin juga karena nggak ada tuh namanya menu kampung yang nggak favorit, alias semua enak dan ngangeni hi hi hi). Seperti hari ini, dar pagi sebenarnya aku sudah mengincar beli lodho, tapi langsung kubatalkan demi tahu kalo Bu Kipir masak Pecel Lele. Apalagi anak-anak ternyata juga sudah enjoy dengan rawon masakan Uti. Wah…hi hi

Pecel Lele ala kampungku ini bukanlah paduan lele goreng+sambal+lalapan lho. Bukan! Pecel Lelenya dimasak dari lele yang dibakar asap (biasanya beli di pasar sudah dalam bentuk dibakar gitu), dengan bumbu sambal goreng putih (minus cabe merah) yang pedesss, belimbing dan tomat (kebayang kan segernya he he) dan santan kental. Alamaakk… Kenikmatan makannya jadi tambah sempurna demi melihat wajah Bu Kipir yang senyum2 bahagia dan puas karena masakannya dapat sambutan seperti yang diinginkannya…he he

Trus siangnya, ada menu segar, es dawet Pak Eko (depan BCATulungagung)…masyaalloh segarnya. Dawetnya P. Eko ini aku suka banget karena aroma pandan dari dawet hijaunya kental banget (aduh kalo dipikir lagi apa sih yang aku ndak suka?? Hi hi). Bea juga suka banget dawetnya, sampai2 tiap ada orang yang makan, dia langsung mendekat dengan wajah mupeng, “Es dawet ya? Bea mau…!!”

Malamnya, menu ganti lagi (wah). Sudah dari sore Abe wanti-wanti ndak mau makan, karena nanti malam mau makan Mie Goreng Kabayan (depan LP/penjara TA) kesukaannya. Asal tahu aja, Abe (dan juga Bea) seperti sudah ketagihan sama mie gorengnya P.Bayan ini, tak pernah sekalipun kunjungan ke Tulungagung terlewat tanpa sempat makan menu ini.

In the end of the day, dalam hati janji2 deh, besok kalo udah pulang ke Surabaya, porsi yoganya Ibuk bakal ditambah 2 kali lipat deh!! Ha ha ha


Selasa, 10 Juli 2007

Beberapa kali Emi sudah merasakan sakit pinggang. Wah kayaknya hari melahirkan bakal ndak lama lagi nih. Kubilang pada si jabang bayi didalam perut “ayo nak, kalo mau keluar cepetan aja gih, mumpung Ibuk Anti masih disini, jangan ntar Ibuk Anti pulang ke Sby trus kamu lahir..!!” He he.

Pagi-pagi (sesuai rencana), kuajak Bea beli lodho. Ada kejadian lucu. Waktu menunggu penjualnya menyiapkan lodho plus sayur lothonya yg superpedas itu (lebih bertindak sebagai sambel alih2 sayur saking pedesnya), tiba-tiba Bea nyeletuk dengan suara keras, cadel dan lucunya itu “Mana Odhol nyaaa??? Ituuu diaaaa odhoolnyaaaa…!!” sambil dengan semangat nunjukin panci besar berisi lodho ayam. Semua langsung ketawa ha ha. Dari pagi memang dia menjalani semacam latihan mengucapkan kata2 “lodho” dan seringkali kepeleset jadi “odhol”. Tahu kalo dikatawain, dia malu-malu bilang (menirukan ucapanku sebelumnya tiap kali dia kepeleset ngomong) “odhol nya di kamar mandi ya Buk? Buat gosok gigi yaa??” Ha ha ha. Hancur deh dia jadi sasaran cubitan beberapa ibu dan mbak2 yang juga lagi beli lodho.

Jangan minta aku tuliskan bagaimana nikmatnya nasi lodho ayam deh…satu2nya cara hanya satu : datanglah sendiri ke Tulungagung, dan makan nasi lodho disitu!! Sudah tak terhitung rasa rindu dendam muncul di hati (atau pikiran?atau lidah?atau perut?hehe) orang-orang asal Tulungagung yang merantau atau hidup di daerah lain (seperti aku ini). Juga tak terhitung lagi deh orang-orang daerah lain yang akhirnya jatuh hati dan merindu dendam juga sama makanan khas Tulungagung ini (seperti juga suamiku).

Pada penasaran? Biar aja…he he he

Sorenya ada kejutan lagi dari Bu Kipir (lama2 memang aku curiga bahwa dia memang benar2 sengaja masak2 yang kesukaanku tiap kali aku disini lho, sumpah! Hi hi mungkin dia juga ketagihan sama rasa puas yang dirasakannya tiap kali mataku terbelalak demi liat masakannya dan berlanjut dengan acara makanku yang sangat berseleran he he).

Punten Pecel. Satu lagi magnet asal Tulungagung yang sudah teruji kehandalannya dalam membuat orang-orang yang pernah merasakannya, jadi ketagihan. Para perantau bisa-bisa memimpikannya di malam yang riuh di perkotaan. Anak-anak kost pada rindu ibunda dan kampung halaman Tulungagung Bersinar tercinta, dan para pendatang yang pernah merasakan, bisa-bisa bertekad menikah (atau besanan) saja sama orang Tulungagung biar lebih gampang merasakannya. Ha ha ha ha hiperbola banget ya!!!

Punten Pecel sebenarnya hampir sama dengan Nasi Pecel. Sambel kacangnya sama. Sayur2annya relatif sama (tapi yang paling oke untuk punten pastinya kembang turi doong). Lauknya juga sama, biasanya tempe goreng dan terasi kedele (terasi kedele ini, juga cuma ada di Tulungagung lho hi hi). Yang membedakan (dan yang membuat istimewa) adalah bahwa menu ini tidak menggunakan nasi biasa, tapi menggunakan punten. Punten ini adalah nasi yang dimasak ala nasi uduk (dengan bumbu santan, daun salam dan garam). Setelah masak dan tanak, dalam keadaan masih panas si nasi ini ditempatkan di lumpang beralas plastik, kemudian dijojoh (di pukul2) dengan ‘gedebog’ (bonggol batang pisang - bukan pohon lho, tapi batang) sampai lengket, lembut dan kalis menyerupai uli. Setelah dingin, baru kemudian dipotong2 kotak untuk kemudian disajikan dengan sayur, lauk, sambel pecel dan kerupuk unyil. Oya, khusus tentang kerupuk unyil ini, juga cuman ada di Tulungagung (alamak), kebetulan pabriknya deket rumahku dan huenaaakkkk nya nggak tertandingi kerupuk manapun didunia (hiperbola lagi deh ha ha).

Aku sendiri di Surabaya seringkali masak punten pecel. Tapi tetap saja tidak akan bisa sama dengan punten pecel yang dimasak di kampung. Bagaimana bisa sama, aku seringkali menjojoh pake alu batu (karena susah sekali mendapatkan gedebog di sby). Tempe surabaya juga berbeda dengan tempe di tulungagung. Kalo sambelnya sih beres karena aku selalu dikirimi Ibuk sambel bikinan Bu Kipir yang maut itu he he.

MasyaAlloh…nikmat sekali…(sekali lagi) tadi malam itu aku berangkat tidur dengan perut kosong (kebalikannya maksudnya hi hi hi)..


Hari ini, Rabu, 11 Juli 2007

Emi semakin sering merasakan sakit pinggangnya. Asnan sempat bilang, kalo sampe lahirnya si jabang bayi besok (tgl 12 Juli) berarti barengan sama 5th anniversary pernikahan mereka ya?? Pasti seru juga, 5 tahun pernikahan ditandai dengan kelahiran anak ketiga he he.

Abe udah semangat menyambut adik sepupu baru. Kalo dia memberi julukan Aaliyah ‘blokotito’ (ndak tau deh darimana dia dapat kata2 itu hi hi), maka si jabang bayi yang belum lahir, sudah disiapkannya julukan, yaitu ‘betita’…ha ha ha ada2 aja…

Rinduku sama mas iwan sudah hampir tak tertahankan (hikss), apalagi bulan2 ini memang dia sibuk banget, dari urusan buka gudang baru di Jember sampe lihat2 perkebunan sawit di balikpapan. Ini aja sebenarnya kepergian ke Bogor gak ada rencana yang khusus selain nemenin Om Kus, tapi karena sekalian pengen nonton bola Piala Asia di Senayan (alamak) jadinya dibelain pergi deh… Ah tinggal sebentar, nanti sore juga kan dia nyusul kesini hueheheh

Menu hari ini belum tahu, aku belum sempat ke dapur Bu Kipir di belakang dan sarapan…semacam agak2 protes deh dari tadi si perut…minta ke kamar mandi terus (ha ha ha). Kuputuskan untuk istirahat mengunyah barang sebentar hi hi. Tapi nanti kalo si mas udah datang, wah mana bisa kutolak, dia pasti ngajak makan diluar…nasi pecel plosokandang nduk!!... Bakwan depan golden swalayan yuuk!!...pingin sate kambing P. Nyoto (depan Barata) nih cay!!...alamaaakkkkk…..

(PS : sorry kalo gambarnya nggak nyambung sama isi postingannya ya…abisnya kangen…hikss..


Friday, July 06, 2007

Abe dan Toilet

Ada yang lucu kalo punya anak cowo...
Sekarang tiap pergi ke tempat umum dan Abe minta pipis, selalu deh pake acara bertengkar sama aku...
Gara-garanya, si Abe selalu minta masuk ke toilet PRIA.

“Lha aku kan cowok Buk...”
“Iya tapi kalo Abe masuk toilet PRIA, Ibuk gak bisa awasin Abe...Ayo, gpp kan Abe masih anak2, ke toilet WANITA aja ya..?”

“Ndak mauu....biarpun anak-anak, tapi Abe lho cowooooo...!!”
“Kalo lagi pergi sama Bapak juga, Abe boleh deh ke toilet cowo, Bapak kan bisa ikut masuk untuk mengawasi...Ibuk kan ndak boleh masuk toilet PRIA...? Trus kalo di tempat umum gini anak-anak kan harus diawasi terus kan?”
“Halaaaah Ibuuuuuk....keburu kebelet nih...!!”
“Ayo makanya ke toilet WANITA aja yuukk”
“Aku ini M-E-N, men!! Masuknya toilet harus di MEN..!!”

Sering2, tanpa menunggu lebih lama (karena udah kebelet kali ya) Abe trus langsung keburu masuk toilet PRIA tanpa persetujuanku. Kalo sudah begitu aku (dengan cemas) terpaksa nunggu di depan pintu, sambil seringkali diliatin dengan aneh sama pria2 yang keluar masuk toilet. Apalagi kalo toiletnya besaaar da rameee macam di mall gitu, tiap ada bapak2/om2 yang buka pintu untuk keluar masuk, aku selalu curi2 melongok kedalam toilet mencari2 Abe. Tambah aneh deh tatapan mereka....

Duuhhh....

Wednesday, July 04, 2007

What a Lazy Day...

What a lazy day...khas suasana liburan sekolah. Since Abe came up with the idea that he should be going nowhere during holiday, so here we comes....ngendon dirumahhh!!! hueheheh

Sepanjang hari dirumah ternyata menyenangkan juga, apalagi kalo liburan sekolah gini, rumah selalu penuh anak2 tetangga kanan kiri yang main. Dari yang seumuran Bea, temen sebaya Abe sampai cewe2 abg (yg sudah sejak kanak2 dulu mereka terbiasa menghabiskan waktu main dirumahku) rame main dirumah...extra cleaning work for sure, but its so much fun!!!

Just for a week anyway, next week Uti must be waiting for us to come to her house di kampung...so for the second week of holiday, 'll be prepare to grab those delicious food back hometown...n prepare to gain weight another 2 kilos ha ha

Tadi si Putri n Anis coba2 bikin rujak, resep baru katanya.."Tante...aku cari2 bahan di kulkasmu ya.."
"Boleh," kataku. Toh biasanya aku kebagian jadi pencicip pertama kalo anak2 lagi masak2 dirumah begitu huehheeh lumayan kan...

"Gimana Te? Enak gak?" tanya Putri ga sabar (anehnya dibelakangnya si mbak Prapti n mbak Pin lagi ngumpat2 ringan)
Sekilas kucoba, "Enak put, seger, kecutnya pas, kamu pake jeruk nipis ya?"
Tapi lama-lama....

"Aduh Puuuttt, pedesnyaaa!!! Ampuunn!!!!" dada sampe panas!!! Dasar Putri, dia cuman cengengesan aja..."Kasih Om Iwan aja nih, kalo sepedes ini, duuuhhh!!!!"

alamak.........

Sunday, July 01, 2007

Anak2 Datang dan Pergi, Ibu Guru Tetap Menyayangi

Kemarin –Sabtu, 30 Juni 2007- adalah acara perpisahan di TK nya Abe. Di akhir acara, semua anak satu angkatan (75 anak dari 3 kelas) bersama-sama naik panggung, berdiri ala paduan suara. Bersama-sama mereka menyanyikan sebuah lagu perpisahan yang meskipun tidak jelas liriknya, tapi sangat terasa syahdunya.

Melihat anak2 tak terasa air mata langsung mengalir haru. Beberapa teman walimurid sempat mengejek aku yang memang –seperti biasa- gampang sekali mewek terharu. Eh, tak berapa lama ditengah2 lagu, kulihat satu per satu mereka kok ikutan nangis juga, hiks...gimana sih (he he).

Di samping panggung berjajar semua ibu guru. Beberapa guru kelas terlihat melakukan beberapa isyarat untuk memberi instruksi anak2 dalam menyanyi. Tak perlu waktu lama kulihat banyak yang sudah sesenggukan juga. Ah! Suasana waktu itu memang syahdu banget..!! Percaya atau tidak, anak2 yang biasanya kalo dipanggung adaaaa aja yang berulah, kali ini sama sekali tidak!! Mereka tekun menyanyi dengan syahdunya. Aduuhhh....
Melihat para guru yang beberapa sampai sesenggukan itu, aku jadi berpikir. Salah satu hal yang pasti menjadi moment yang sangat berat buat para guru, mungkin adalah moment seperti ini. Ketika mereka harus melepaskan anak-anak yang lulus. (Mikir itu waktu itu, air mata jadi tambah deras deh T_T). Tak terbayangkan rasanya...

Dari awal masuk TK, sehari-hari dunia mereka penuh dengan anak-anak didik. Waktu banyak dihabiskan di kelas dengan anak-anak (apalagi kaya sekolahnya Abe yg fullday gitu). Di rumahku, hanya dengan 2 anak-anak saja sudah tak terhitung kelucuan, kekonyolan dan kejadian2 spesial yang terjadi (dari kecelakaan2 kecil sampai kebandelan2 yang menguji emosi) . Apalagi di kelas!! Ada 25 anak-anak dengan kelucuan dan kebandelan sendiri2. Kesannya pasti sangat dalam buat Bu Guru yang rata-rata memang modelnya penyayang anak itu (maklum guru TK).

Waktu melihat Bu Guru mulai sesenggukan demi melihat anak-anak menyanyi di panggung kemarin, aku jadi mengira-ngira apa yang ada dipikiran mereka. Harus merelakan anak-anak yang sudah sangat dekat di hati itu untuk meneruskan sekolah ke SD, meneruskan perjuangan mereka mencapai cita-cita. Membayangkan hari-hari kemarin berada ditengah-tengah hangatnya anak2 dan hari2 selanjutnya yang hanya tersisa kenangan. Pantas saja kalo sangat mengharukan, pasti terbayang satu2 wajah anak2 dan terbayang segala kejadian berkesan yang dialami selama bersama anak-anak.

Aku sendiri termasuk walimurid yang sangat sering ‘berkeliaran’ di sekolah. Maklum ibu rumah tangga, tak ada pekerjaan lain selain ngurusin anak-anak. Secara pribadi, aku sangat dekat mengenal para guru, bukan hanya yang kebetulan mengajar Abe.
Karena tugas dari Komite Sekolah, kalo ada guru yang sakit, seringkali aku datang menjenguk. Begitupun kalo ada yang melahirkan, tertimpa musibah (misal lumpur lapindo atau kematian anggota keluarga), aku seringkali datang kerumah mereka, berinteraksi dengan keluarga mereka dan lain sebagainya. Aku jadi tahu betapa dekatnya para guru dengan anak2. Ketika mereka berkumpul pun, topik yang dibcarakan adalah juga anak2. Tentang si Pasya yang susah dilarang kalo sudah mengejar pingin peluk si Amel, tentang si Ghofur yang suka menyusup ke kelas lain, tentang Chalita yang dorong2an bertengkar dengan Ofi di kolam renang. Everything! Kalau dipikir2, waktu yang dihabiskan ibu guru disekolah dengan anak2, bisa-bisa sama intensitasnya dengan waktu yang mereka habiskan dirumah bersama anak2 kandung mereka sendiri.

Rasa sayang dan kedekatan mereka kepada anak2 kita, bukan mustahil sama dengan rasa sayang kita yang orangtua kandung ini...

Jangan bayangkan guru TK akan sama dengan guru SD, SMP atau SMA lho!! Guru-guru TK ini, mereka bukan hanya mengajar, mereka juga mengasuh dan menjaga. Mereka menenangkan ketika anak2 kita rewel. Mereka membelai rambut anak-anak kita ketika bersalaman. Mereka merawat luka anak-anak kita ketika terjatuh. Mereka memberikan pelukan ketika anak-anak kita membutuhkannya. Mereka menyayangi dengan sepenuh hati...

Dalam sesengukan Ibu Guru kemarin, aku melihat semua...
Mereka melepas anak-anak pergi....
Mereka menyiapkan hati untuk siap menyayangi lagi, murid2 angkatan baru yang nantinya akan menghiasi hari-hari mereka lagi...selama 2 tahun....untuk kemudian melepas mereka lagi ketika lulus nanti...
Tak terbayang banyaknya rasa sayang yang ditebarkan para guru untuk anak-anak selama bertahun2 mereka mengajar ya...

Aku jadi rindu dengan guru TK ku dulu....
Namanya Bu Sangadah. Terakhir aku melihatnya sekitar 2 tahun lalu di Tulungagung, beliau sudah renta (maklum waktu dulu aku TK, dia adalah guru senior yang sudah setengah umur). The point is, dalam memoriku masih jelas tergambar sosoknya ketika mengajarku 26 tahun yang lalu. Masih jelas tergambar gaya sanggul rambutnya, tahi lalat besar di pipi kirinya, senyum teduhnya tiap kali menyambut di pagi hari, badannya yang agak membungkuk (mungkin karena terlalu banyak merendahkan wajah untuk bicara dengan anak-anak), sepatu hitam ala minnie mouse yang kuingat tak pernah berganti selama aku TK dan suara ketak-ketok yang ditimbulkan ketika beliau berjalan, aku masih bisa mengingatnya lho!! Suara seraknya yang tiba-tiba bisa menjadi tegas kalo menghadapi anak yang bandel, rasanya masih bisa kudengar dengan jelas terngiang di telingaku sekarang!! (aduh Ibu...doaku untukmu...)

Tak terbayang, berapa banyak para murid yang sampai sekarang masih mengenang beliau seperti aku. Seluruh hidupnya, yang beliau lakukan hanya mengajar dan mengajar. Kubayangkan hatinya sekarang pasti sudah berkemilau selaksa batu berlian karena terasah dan tersepuh untuk mencintai anak-anak didiknya silih berganti. Menerima mereka dalam asuhan kasih sayangnya dan melepas dengan doa dan haru airmata ketika anak-anak itu lulus sekolah. Subhanalloh...

Benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa. Seperti sebuah puisi yang pernah kubaca, “Ibu Guruku...kau adalah bagian dari doa malamku...”

(nostalgia tentang Bu Guru kita yuuk...)